Protected: Human and System

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Protected: Membaca Jejak dan Arah Langkahmu

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Antara Piring dan Ruh

Ada tiga orang yang masing-masing dipinjami sebuah piring. Piring bersih ini sengaja dipinjamkan oleh pemiliknya kepada tiga orang yang berbeda.

Orang pertama dipinjami piring ini, digunakan setiap hari sampai selesai dan mengembalikan piring tersebut sudah dalam keadaan bersih. Maka sudah barang tentu sang pemilik piring akan merasa senang, karena piring yang dia pinjamkan kembali dalam keadaan bersih.

Orang kedua sebagaimana orang pertama tadi juga menggunakan piring pinjaman tersebut. Saat tiba waktunya dikembalikan piring tersebut masih dalam keadaan kotor. Maka tentulah sang pemilik akan merasa kecewa.

Begitu juga orang ketiga saat mengembalikan piring tersebut masih dalam keadaan kotor bahkan sudah pecah. Terbayang bagaimana marahnya sang pemilik piring?

Itulah gambaran diri kita hadir disini. Allah lah pemilik piring itu. Dan piring itu adalah ruh yang ada di tubuh kita. Allah tiupkan ruh sedari awal dalam keadaan bersih dan suci. Ia tumbuh dan hidup di dunia ini dengan segala lika-liku hidupnya. Begitulah piring itu digunakan.

Piring yang bagus bukanlah piring yang tidak digunakan. Piring yag bagus adalah piring yang bermanfaat. Dia mungkin akan tersentuh kotor. Dan piring yang benar-benar bagus adalah piring yang segera dibersihkan saat tersentuh kotoran.

Begitulah ruh kita yang mungkin sering bersentuhan dengan kemaksiatan dunia. Namun ruh yang baik akan selalu segera dibasuh dengan tobat agar kembali bersih. Dan bila saat pemiliknya meminta piring sudah dalam keadaan bersih, tentu pemiliknya akan merasa senang.

Namun bayangkan bila piring itu kembali ke pemiliknya masih dalam keadaan kotor bahkan pecah? Betapa murkanya sang pemilik piring. Saudaraku, seandainya kita yang sedang memegang piring itu, sudahkan kita menggunakannya agar membawa manfaat dan menjaganya agar tetap bersih? Belum ada kata terlambat saat mata kita masih bisa membaca tulisan ini.

Abi Raihan, catatan terbuka, 13-11-09

Adap Ketika Hujan

1. Takut dan Kawatir terhadap siksa Allah

Ummul mukminin Aisyah ra. : Aku tidak pernah melihat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga terlihat lidahnya, beliau hanya tersenyum. Apabila beliau melihat awan mendung dan angin kencang, maka wajah beliau akan segera berubah.

Aisyah berkata, “Wahai rasulullah aku memperhatikan apabila manusia melihat awan mendung mereka bergembira karena mengharap hujan kana turun. Namun aku memperhatikan dirimu jika mendung datang, kegelisahan nampak di wajahmu.

Maka rasulullah pun menjawab, “Wahai Aisyah, tidak ada yang menjaminku, bahwa awan tersebut mengandung adzab. Sungguh suatu kaum telah diadzab dengan angin kencang sedangkan mereka mengatakan, “Inilah awan yang akan mengirimkan hujan kepada kami.” (HR Muslim)

2. Berdoa ketika turun hujan

Apabila hujan turun maka beliau (nabi SAW) sering berdoa, “Ya Allah turunkanlah hujan yang baik dan bermanfaat.” (HR Bukhari) Rasulullah juga bersabda, “Bergegaslah berdoa di waktu yang mustajab, yaitu ketika bertemunya dua pasukan di medan pertempuran, sholat hendak dilaksanakan, dan turunnya hujan.” (Imam Ibnu Qayyim, kitab Zaadul Ma’ad)

3. Memperbanyak rasa syukur kepada Allah

Bumi yang semula tandus(kering) akan kembali subur ketika hujan membasahinya. Ini merupakan salah satu nikmat Allah yang diturunkan kepada hamba-Nya, maka bersyukurlah. Sebagaimana firman Allah, “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa yang tidak bersyukur sesungguhnya Allah maha kaya dan maha terpuji.” (Luqman-12)

4. Mengguyur sebagian badan dengan air hujan

Dari Anas, “Hujan mengguyur kami beserta rasullullah SAW. Kemudian rasulullah SAW menyingkap sebagian bajunya sehingga hujan membasahi tubuhnya. Kami bertanya, “Wahai rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu?” Beliau menjawab, “Aku melakukannya karena hujan tersebut adalah Rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah.” (HR Muslim).  Hadits ini merupakan dalil bagi pendapat rekan-rekan kita (ulama bermazhab Syafii) yang menyatakan bahwa dianjurkan menyingkap bagian tubuh selain aurat ketika permulaan hujan agar hujan mengguyur tubuhnya.

5. Berdzikir setelah turunnya hujan

Rasulullah SAW bersabda, “Hujan diturunkan kepada kami dengan karunia dan Rahmat-Nya.” (HR Bukhari – Muslim)

6. Berdoa agar cuaca dicerahkan kembali

Apabila hujan turun dengan derasnya, maka kita dianjurkan untuk berdoa kepad aAllah agar cuaca dicerahkan kembali .

7. Berdoa ketika mendengar petir

Dari Abdullah ibnu Zubair, tatkala rasulullah SAW mendengar petir, beliau berdoa, “Mahasuci Allah, dimana petir bertasbih dengan memuji-Nya, dan juga malaikat karena takut akan kemarahan-Nya.” (HR Bukhari)

Antara Gula, Air dan Kopi

Dear sahabat, yang saat ini sedang membaca tulisan ini, “Apakah ada secangkir kopi hangat di meja Anda?” Apakah Anda membuatnya sendiri? Atau mungkin orang yang menyayangi Anda telah meluangkan waktunya membuatkan secangkir kopi hangat untuk Anda.

Tp yang pasti kopi yang ada di meja Anda setidaknya terdiri dari gula, kopi dan air panas bertemu dalam sebuah cangkir untuk dinikmati. Saya yakin kita sependapat.


Gula yang bagus, putih bersih walau sedikit tapi terasa manis. Kopi yang benar-benar sudah masak, hitam tapi wangi walau terasa pahit. Dan Air panas yang dituangkan untuk melarutkan keduanya. Menghadirkan aroma yang begitu nikmat. Bahkan belum diminum pun sudah menghadirkan sensasi kenikmatan tersendiri. Ah..

Akan sangat aneh rasanya bila salah satu di antaranya tidak seperti yang disebut di atas. Sebutlah gula yang berkualitas rendah dan tidak terlalu manis. Gula yang dalam jumlah banyak tapi terasa hambar. Seperti halnya apa yang kita rasa telah kita miliki. Begitu berlimpah tapi tak memberi membahagiakan. Akan begitu mengesankan gula kualitas bagus dalam jumlah sedikit tapi terasa begitu manis. Apa yang kita miliki mungkin tak banyak tapi begitu membahagiakan.

Kopi, warnanya hitam dan terasa pahit. Mungkin begitulah apa yang sering kita rasakan sebagai kesedihan atau kekecewaan. Tak peduli seberapa banyaknya kopi itu, sekalipun hanya sedikit tapi rasanya begitu pahit di lidah kita. Tak peduli seberapa banyak apa yang pernah kita alami tapi begitu menyakitkan, hidup terasa begitu pahit.

Lalu bagaimana si air panas? Sewaktu penulis masih kecil menanyakan pada ibu yang telah melahirkannya, “Kenapa sih (gula dan)kopi ini harus diberi air panas? Kenapa tidak air dingin saja. Kan tidak repot harus merebus air. Bahkan setelah dituang ke dalam cangkir kita masih harus menunggu sampai kopinya dingin baru bisa diminum.” Sambil mengaduk secangkir kopi, Ibu hanya tersenyum dan menjawab ringan, “Supaya kopinya matang nak.” Kopinya matang? Sebuah jawaban yang sulit dimengerti saat itu.

Air panas akan melebur pahitnya kopi, melebur manisnya gula dan menghadirkan rasa yang sangat nikmat. Begitulah peran si air panas. Ialah hati kita yang merasakan bahagia seperti manisnya gula. Dan bukan siapa2 selain hati kita pula yang merasakan kecewa serasa pahitnya kopi. Dan yang bisa melebur keduanya hanyalah hati yang lapang. Hati yang bisa menerima kekecewaan dan kebahagian.

Pernahkah kita memperhatikan seseorang yang kita kagumi. Apa yang kita kagumi dari beliau? Senyumnya kah? Sejenak melihatnya sudah bisa menyejukkan. Hanya dari senyumnya sudah bisa menggambarkan betapa indahnya hidup beliau. Kadang kita berpikir apakah beliau memang tidak pernah merasakan kekecewaan?

Sahabat, setiap kita pernah merasakan kesedihan, setidaknya pernah mengalami kekecewaan karena kenyataan tak sesuai dengan harapan. Maukah kita memiliki hidup yang indah seperti beliau? Mau susah seperti apa, mau kecewa seperti apa selalu saja masih bisa menghadirkan senyum. Senyum, itulah aroma nikmat dari secangkir kopi. Siapapun yang mencium aromanya, tidak ada yang bisa menghalangi untuk ikut merasakan kenikmatannya.

Sahabat, tidak selamanya kepahitan yang ada harus kita rasakan sebagai kekecewaan yang berlarut-larut. Karena masih ada gula yang selalu mau berteman dengan kopi. Tuangkanlah kebahagiaan ke dalam hati kita. Dan tersenyumlah. Hati yang lapang akan berkata, “Selalu ada kebahagiaan yang menemani kesedihan.”

Adakah hati yang lapang di diri Anda? Sahabatku, setelah membaca artikel ini, mari berbagi senyum sebagaimana saat saya menuliskan untuk sahabatku.

Tulisan Truk


Pernah perhatikan tulisan-tulisan di bak truck? Di bawah ini contohnya :


Anda butuh waktu, kami butuh uang

Naik Gratis,Turun Bayar

Ma2ku 1/3 dis — > mamaku seperti gadis.. 😛

THE ME anak IS 3 > demi anak istri

JANGAN DINIKAHI BILA SEGEL RUSAK

TABAH MENANTI

Ku Nanti Jandamu

SEKARANG BAYAR, BESOK GRATIS

WWW.APKTNTAJ. COM> maksudnya?? hahahaha.. ape kate ente aje , ternyata….

Ber 2 1 7 an > berdua 1 tujuan

MER – 123 – LUCK > mertuwa galak.. haha.. bisa jah..

THONK HE LOVE > tong hilap, alias don;t porget

be are the kill us all come fuck >biar dekil asal kompak.. huaahahaha..

BE YOUNG CARE ROCK > biang kerok

Alone By Must > ini apa artinya? > alon bae mas!!!

Cintamu Tak Semurni Bensinku

Ja 500 P Let > jago pelet

BURONAN MERTUA

on any book an plumb pleasant > hauahaha.. “onani bukan pelampiasan ;P*

BERSATU DI PANGKALAN BERSAING DI JALANAN

Bercinta di Bis Berpisah di Terminal

STREET FIGHTER > maksudnya preman?

PUTUS CINTA sudah biasa
PUTUS ROKOK merana
PUTUS REM matilah kita

Cintaku Berat Di Bensin

MAN 7 jur > mantu jujur

JUM’AT KELABU > Trayek Ps. Jumat – Pd. Labu

Mencari nafkah demi desah (walah!!!! Ki maksude apa?)

UCOK= Uang Cukup Ongkos Kurang

Lupa namanya, ingat rasanya (kebiasaan pantura!!!!! )

Enak tapi dosa (iki apa meneh?)

Istri goyang suami basah (duuuuuh…. ……… ……)

pergi karena tugas & pulang karena beras..

rejekiku dari silitmu > tulisan di truk sedot tinja

MATSIBISHA

cinta ditolak dukun terbahak

goyang pantura

Pulang malu, tak pulang rindu..

Cinta putus kimpoi pun tak jadi

JANDA BARU NENEN —> Trayek Juanda – Ps.Baru – Senen

JANDA 1/3 DIS

Do Now .. Casino … In Draw … War Cop DKI

bukan salah ibu mengandung.. .
salah bapak nggak pake sarung (he23x……..)

LONG STREET OF MEMORY -> Sepanjang Jalan Kenangan

Ora Sama Bin Lain

besar di rantau, tua di jalan

tak sehina yang kau duga

ABANG YANG ENAK ADE YANG BERANAK

Kalau gadismu tak kudapat, jangan harap jandamu bisa lolos

Menerobos Lampu Merah

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam
hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

"Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!"

"Hai, Jack." Tanpa senyum.

"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah."

"Oh ya?" Tampaknya Bob agak ragu.

Nah, bagus kalau begitu. "Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan
anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."

"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi
lampu merah di persimpangan ini."

O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi. "Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala." Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

"Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu."

Dengan ketus Jack menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan
menutup kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah
cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.

Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota.
Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa?
Buru-buru Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.

"Halo Jack, Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah.

-Bob-"

Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.