Dinar dan Harga Kambing

Sudah lama saya tidak mengurusi harga kambing, terakhir ngurusi ketika menjadi ketua DKM di Masjid komplek dan ikut memantau harga-harga kambing yang ditawarkan supplier. Saat itu (2002-2003) harga kambing masih di kisaran Rp 500 ribu-an.

Hari-hari ini pedagang kambing mulai ramai menjajakan kambingnya di pinggir-pinggir jalan, saya perhatikan kambing-kambing yang sedang harganya sudah diatas Rp 1 juta-an. Kok cepat amat ya naiknya?

Inilah realita daya beli uang kita. Harga kambing-kambing tersebut sesungguhnya tidak berubah selama 1400 tahun lebih. Harga kambing di zaman Rasulullah pada kisaran 1 Dinar, maka satu Dinar sekarang tetap dapat untuk membeli kambing dengan ukuran sedang.

Tidak demikian halnya dengan uang kertas baik itu Rupiah, US$ maupun uang kertas dari negeri manapun, belum ada yang terbukti survive dalam jangka panjang.

Apabila trend kenaikan harga kambing (sama dengan kenaikan harga Dinar) tetap seperti rata-rata trend 40 tahun terakhir yaitu naik 23.30 %/tahun, maka kambing Qurban yang sekarang harganya Rp 1.2 juta, 5 tahun lagi akan menjadi Rp 3.4 juta dan 40 tahun lagi akan menjadi Rp 5.22 Milyar. Wow..

Lagi-lagi inilah realita uang kita. Tetap tidak masuk akal membeli seekor kambing seharga Rp 5.22 Milyar?

Waktu saya berusia 5 tahun tahun harga kambing cuma Rp 1,600 perak. Saat itu (kalau toh saya sudah bisa berpikir) tentu nggak kebayang kalau 40 tahun kemudian harga kambing menjadi Rp 1.2 juta, tetapi ini sekarang terjadi.

Sebelum harga kambing menjadi Rp 5.22 milyar, sangat banyak yang bisa terjadi terhadap uang fiat kita. Oleh karenanya pemahaman dampak inflasi terhadap daya beli uang kita dalam rentang waktu yang panjang ini perlu kita kuasai agar kita tidak menjadi korban inflasi.

Bapak-bapak kita, kakak-kakak kita yang lebih dahulu memasuki usia pensiun banyak sekali yang mungkin sekarang menderita secara finansial, karena menjadi korban inflasi yang tidak pernah mereka sadari, apalagi mengantisipasinya.

Lantas apakah kita harus rame-rame memindahkan dana pensiun kita pada kambing ? Why not ? 🙂 Tetapi kambing hanyalah representasi asset riil yang memiliki nilai terjaga. Selain ke kambing tentu bisa ke asset riil lainnya berupa Dinar Emas, perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan dan berjibun pilihan investasi benda riil lainnya. Produktif dan insyaallah tidak tergerus inflasi.

Wallahu A’lam.

Oleh Muhaimin Iqbal

Note : saat tulisan ini publish di blog saya, Dinar di kisaran Rp. 1.700.000

Advertisements

2 Comments

  1. mungkin bisa ternak kambing ya, tapi saat ini mencari rumput katanya sudah susah

  2. Memang menarik untuk mencoba ternak kambing, selain perawatannya sepertinya relatif mudah. Daya jualnya juga lumayan.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s