Antara Gula, Air dan Kopi

Dear sahabat, yang saat ini sedang membaca tulisan ini, “Apakah ada secangkir kopi hangat di meja Anda?” Apakah Anda membuatnya sendiri? Atau mungkin orang yang menyayangi Anda telah meluangkan waktunya membuatkan secangkir kopi hangat untuk Anda.

Tp yang pasti kopi yang ada di meja Anda setidaknya terdiri dari gula, kopi dan air panas bertemu dalam sebuah cangkir untuk dinikmati. Saya yakin kita sependapat.


Gula yang bagus, putih bersih walau sedikit tapi terasa manis. Kopi yang benar-benar sudah masak, hitam tapi wangi walau terasa pahit. Dan Air panas yang dituangkan untuk melarutkan keduanya. Menghadirkan aroma yang begitu nikmat. Bahkan belum diminum pun sudah menghadirkan sensasi kenikmatan tersendiri. Ah..

Akan sangat aneh rasanya bila salah satu di antaranya tidak seperti yang disebut di atas. Sebutlah gula yang berkualitas rendah dan tidak terlalu manis. Gula yang dalam jumlah banyak tapi terasa hambar. Seperti halnya apa yang kita rasa telah kita miliki. Begitu berlimpah tapi tak memberi membahagiakan. Akan begitu mengesankan gula kualitas bagus dalam jumlah sedikit tapi terasa begitu manis. Apa yang kita miliki mungkin tak banyak tapi begitu membahagiakan.

Kopi, warnanya hitam dan terasa pahit. Mungkin begitulah apa yang sering kita rasakan sebagai kesedihan atau kekecewaan. Tak peduli seberapa banyaknya kopi itu, sekalipun hanya sedikit tapi rasanya begitu pahit di lidah kita. Tak peduli seberapa banyak apa yang pernah kita alami tapi begitu menyakitkan, hidup terasa begitu pahit.

Lalu bagaimana si air panas? Sewaktu penulis masih kecil menanyakan pada ibu yang telah melahirkannya, “Kenapa sih (gula dan)kopi ini harus diberi air panas? Kenapa tidak air dingin saja. Kan tidak repot harus merebus air. Bahkan setelah dituang ke dalam cangkir kita masih harus menunggu sampai kopinya dingin baru bisa diminum.” Sambil mengaduk secangkir kopi, Ibu hanya tersenyum dan menjawab ringan, “Supaya kopinya matang nak.” Kopinya matang? Sebuah jawaban yang sulit dimengerti saat itu.

Air panas akan melebur pahitnya kopi, melebur manisnya gula dan menghadirkan rasa yang sangat nikmat. Begitulah peran si air panas. Ialah hati kita yang merasakan bahagia seperti manisnya gula. Dan bukan siapa2 selain hati kita pula yang merasakan kecewa serasa pahitnya kopi. Dan yang bisa melebur keduanya hanyalah hati yang lapang. Hati yang bisa menerima kekecewaan dan kebahagian.

Pernahkah kita memperhatikan seseorang yang kita kagumi. Apa yang kita kagumi dari beliau? Senyumnya kah? Sejenak melihatnya sudah bisa menyejukkan. Hanya dari senyumnya sudah bisa menggambarkan betapa indahnya hidup beliau. Kadang kita berpikir apakah beliau memang tidak pernah merasakan kekecewaan?

Sahabat, setiap kita pernah merasakan kesedihan, setidaknya pernah mengalami kekecewaan karena kenyataan tak sesuai dengan harapan. Maukah kita memiliki hidup yang indah seperti beliau? Mau susah seperti apa, mau kecewa seperti apa selalu saja masih bisa menghadirkan senyum. Senyum, itulah aroma nikmat dari secangkir kopi. Siapapun yang mencium aromanya, tidak ada yang bisa menghalangi untuk ikut merasakan kenikmatannya.

Sahabat, tidak selamanya kepahitan yang ada harus kita rasakan sebagai kekecewaan yang berlarut-larut. Karena masih ada gula yang selalu mau berteman dengan kopi. Tuangkanlah kebahagiaan ke dalam hati kita. Dan tersenyumlah. Hati yang lapang akan berkata, “Selalu ada kebahagiaan yang menemani kesedihan.”

Adakah hati yang lapang di diri Anda? Sahabatku, setelah membaca artikel ini, mari berbagi senyum sebagaimana saat saya menuliskan untuk sahabatku.

Advertisements