Bahaya Ponsel di Dalam Pesawat

Artikel diambil dari surat kabar Bisnis Indonesia 27 Oktober 2004 Mengapa Ponsel Tak Boleh Dipakai di Dalam Pesawat Terbang ?

Menggunakan ponsel di dalam pesawat terbang – baik sedang mengudara maupun ketika pesawat sedang berada di darat -berpotensi membahayakan keselamatan seluruh penumpang dan awak pesawat. Di samping itu, juga melanggar kepantasan dan tatakrama.

Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja lepas landas dari bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat.

Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang terus meraung-raung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor di bagasi lupa dimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi.

Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi 700 kaki justru ketika sedang final approach untuk mendarat di bandara Heathrow, London. Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing-masing (The Australian,23-9-1998).

Daftar ini masih dapat diperpanjang lagi. Mereka yang tak peduli akan keselamatan dirinya, dan penumpang lainnya, boleh saja terus bersikap tak peduli akan larangan mengaktifkan ponsel dalam pesawat. Tetapi seorang kapten tentara Arab Saudi dihukum cambuk 70 kali karena kedapatan menyalakan ponsel di dalam pesawat. Seorang teknisi Inggris dijebloskan ke penjara selama setahun karena menolak permintaan pramugari British Airways untuk mematikan ponselnya. Menurut peraturan FAA (Federal Aviation Administration) mengaktifkan ponsel di dalam pesawat terbang – bukan saja selama penerbangan – adalah pelanggaran hukum (illegal) dan dapat dihukum atas dakwaan membahayakan keselamatan umum.

Di Indonesia ? Begitu roda-roda pesawat menjejak landasan, segera terdengar bunyi beberapa ponsel yang baru saja diaktifkan. Para “pelanggar hukum” itu seolah-olah tak mengerti bahwa perbuatan mereka dapat mencelakai dirinya dan penumpang lain, disamping merupakan gangguan (nuissance) terhadap kenyamanan orang lain.

Dapat dimaklumi, mereka pada umumnya memang belum memahami tatakrama menggunakan ponsel, disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan kemudi pesawat terbang.

Matikan Selama di Pesawat

Ponsel harus dimatikan – tidak hanya diswitch agar tidak berdering – selama berada di dalam pesawat. Ulangi : selama berada di dalam pesawat. Ini penting ditegaskan karena banyak orang menyimpulkan sendiri bahwa ponsel hanya berpotensi bahaya ketika pesawat mengudara.

(Silakan lihat daftar gangguan ponsel pada tabel).

VOR (VHF Omnidirectional Receiver) tak terdengar, disebabkan oleh ponsel

Arah terbang melenceng, disebabkan oleh ponsel

Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu, disebabkan oleh ponsel

Gangguan sistem navigasi, disebabkan oleh ponsel

Gangguan frekuensi komunikasi, disebabkan oleh ponsel

Gangguan indikator bahan bakar, disebabkan oleh ponsel

Gangguan sistem kemudi otomatis, disebabkan oleh ponsel

Gangguan arah kompas, , disebabkan oleh komputer, CD, game

Gangguan indikator CDI (Course Deviation Indicator), disebabkan oleh gameboy

dan banyak lagi lainnya

SUMBER : ASRS (Aviation Safety Reporting System)

Dengan memahami daftar gangguan ini, kita menyadari bahwa bukan saja ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel. Kebisingan pada headset para penerbang dan terputus-putusnya suara mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas dengan baik. Potensi kecelakaan masih dapat terjadi di darat ketika pesawat sedang bergerak menuju pintu embarkasi (gate) karena gangguan komunikasi.

Gangguan di Darat

Sebenarnya, secara teknis penggunaan ponsel di dalam penerbangan lebih mengganggu sistem telekomunikasi di darat (terrestrial) ketimbang gangguan pada sistem pesawat terbang.

Seperti kita ketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio, melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak diatas Jakarta). Overloading terhadap BTS karena penggunaan ponsel di udara dapat sangat mengganggu para pengguna ponsel di darat.

Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak tahu tata krama? Sekiranya kita terbang, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang. Aktifkan ponsel Anda setelah Anda berada di gedung terminal.

Advertisements

2 Comments

  1. setiap bulan saya sering bertugas dr Jkt ke Papua by GA,
    masih sering dijumpai para penumpang di kelas Bisnis & kelas Ekonomi masih menggunakan HP di dlm pesawat, Hal ini sangat menggangu kenyamanan saya dlm penerbangan (berbeda dgn Maskapai Penerbangan Asing). Hal tsb sering saya beritahukan kpd crew Pramugari yg bertugas, tp sangat disayangkan teguran Pramugari tsb hny bersifat himbauan, bukan LARANGAN KERAS yg disertai Penjelasan.
    Alangkah baiknya jika Bahaya Ponsel dlm pesawat dpt dijadikan Safety Regulation yg ditayangkan disetiap penerbangan Domestik kita apa bahaya serta akibatnya.
    Trime kasih saya ucapkan atas Artikel yg sangat berguna ini.

  2. salam kenal DeGua,

    Dari pengalaman saya, pramugari yg paling galak adalah Adam Air. Galak dlm arti tegas untuk hal2 spt di atas. Saya sempat terpikir kecelakaan Foker di Bandara HS Bandung kemarin. Diberitakan pesawat mengalami oleng saat menjelang landing dan menabrak bangunan menewaskan penumpangnya. Saya berpikir apa iya satu2nya faktor pemicu kecelakaan adalah cuaca buruk. Tidak menutup kemungkinan ‘habit’ menyalakan HP di pesawat ikut menjadi pemicu? Smg dugaan saya salah.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s