Kencang Tapi Irit BBM

Pengendara sepeda motor di Jakarta, memang cenderung terprovokasi oleh situasi lalu lintas yang nyaris selalu macet. Tak saja tergoda untuk menyelinap di antara mobil-mobil mewah, pemotor biasanya juga ingin selalu kencang meninggalkan kepadatan jalanan.

Ketika menunggu lampu merah, juga sering kali terjadi pemandangan ‘menakjubkan.’ Sekelompok pengendara motor seakan saling bersiap di garis start arena balap. Dan suara mesinpun menderu-deru, satu sama lain bagai memamerkan kemampuan mesinnya.

Kebiasaan memacu motor dan mengeber-ngeber gas seperti itu tak mereka sadari sebagai keburukan yang sekurangnya berdampak pada borosnya konsumsi bahan bakar minyak. Sejumlah tips ini bisa digunakan motorsit menyiasati keinginan untuk jalan kencang tanpa harus mengonsumsi bensin secara berlebihan.

– Hindari bukaan gas mendadak

Banyak pemotor di ibukota memilih gaya memacu motor bagai pembalap. Ini tampak dari cara mereka memutar gas -pada stang kanan- secara keras dan sesekali melepasnya dengan diikuti mengerem tajam. Kegiatan itu amat berbahaya bagi keselamatan diri dan pengguna kendaraan lain.

Sebab konsentrasi pada buka-tutup gas malah bisa menyirnakan konsentrasi pengendaraan. Dan reflek pengereman pun bisa-bisa terganggu. Kecelakaan dipastikan tak dapat dihindari. Perhatikan saja, para pembalap pun tak pernah melakukan hentakan gas seperti itu.

Selain membahayakan, kegiatan tersebut akan menyedot banyak konsumsi bensin terbakar dalam karburator tanpa hasil memadai. Artinya BBM boros tanpa hasil berarti. Cobalah menggunakan gas secara halus namun tak harus lambat. Dijamin konsumsi bensin motor Anda akan irit sesuai spesifikasi mesin bersangkutan.

– Jangan berlebihan mainkan gas

Pernah memperhatikan pemotor saat berhenti di lampu merah? Ngeri dan berisik kan. Ini jelas kebiasaan amat buruk. Selain memperburuk kondisi polusi udara, kegiatan itu tak ada gunanya. Bensinpun jelas banyak terbuang percuma.

Hentikan kebiasaan buruk ini karena sekaligus berarti menghemat pemakaian bahan bakar. Kalau kelakuan sembrono itu karena alasan mesin tak bisa hidup stasioner, lebih baik motor di tune-up atau sekurangnya besarkan setelan gasnya. Bisa dilakukan di karburator atau pada kabel gas.

Memainkan gas juga perlu dihindari kala memanaskan mesin di pagi hari. Sama sekali tak ada gunanya mengeber gas untuk dugaan membuat mesin cepat panas. Biarkan mesin hidup 15 menit di pagi hari, niscaya motor segera siap dijalankan.

– Sesuaikan persneling dan kecepatan

Mungkin karena lelah atau jenuh berpuluh kilometer mengendarai motor, pengendara acap malas memposisikan persneling sesuai dengan kecepatan kendaraan roda duanya. Umumnya pemotor cuek dengan kecepatan rendah sementara posisi gigi persneling masih tinggi. Bisa juga sebaliknya, mesin telah menderu saat posisi gigi masih rendah.

Kebiasaan buruk lainnya, kala ingin menambah kecepatan, gas langsung ditekan tanpa didahului penurunan posisi gigi. Lainnya adalah nekat memindah gigi sementara putaran mesin masih tinggi. Semua itu bakal menjadikan ringkihnya mesin dan lagi-lagi, bensin boros.

Mudah mengatasi kebiasaan buruk tersebut.

Pantau saja rpm dalam speedometer dan biasakan selalu memindah gigi –baik turun maupun naik pada saat rpm di bawah angka 5 (berarti senilai 5.000 rpm). Sementara bagi motor bebek yang tidak dilengkapi rpm, lihat saja ukuran pada speedometer yang pasti terdapat petunjuk angka gigi persneling yang direkomendasikan sesuai kecepatan.

– Selip kopling

Pemotor berkopling sering hanya memainkan (selip) kopling saat hendak mendahului kendaraan lain. Demikian juga pemotor bebek yang hanya menginjak separuh posisi persneling untuk kepentingan itu. Ini jelas keliru, karena motor tak bertambah tenaga namun konsumsi bensin malah bertambah besar.

Memang terasa ada hentakan bagai kecepatan bertambah, tapi kebiasaan selip kopling malah bisa berdampak komponen tersebut cepat aus sebelum waktunya. Turunkan posisi persneling kalau memang ingin mendapat tenaga lebih besar saat akan mendahului kendaraan lain. (berbagai sumber)

Advertisements

2 Comments

  1. Thx artikelnya. Mau tanya, kalau misal mau ngejer top speed misal kita lagi diposisi gigi 3, rpm 9000. Mau pindah ke gigi 4 kalau diturunin dibawah 5000 rpm apa gak jadi drop ya mas ? Sementara kan rpm pengen tetep diatas biar bisa dapet speed atas.

    Thanks.

  2. Sbenernya saya agak segen njwab ini, scr bkn ahlinya. Pake motor ber-RPM pun dah lama sy tinggalkan, terakhir pake Thunder 250cc. Tp intiny kita bisa rasakan getaran mesin ko, kl dah geter bgt y mint aganti gigi. Lbh fair lg benrnya pake panduan d speedo meter kapan kita ganti giginya, gitu. Btw kl peratiin artikel di atas sbenernya kontradiktif dg pertanyaannya. Di atas adalah bicara ‘hemat’ smentara kl ngomongin Top Speed ujung2nya adalah konsumsi BBM. Saya sendiri skr pake Supra Fit top speedny lom tembus 100KM/Jam. Waktu pake Thunder 250, 120KM/Jam dah ngeri bgt. Smua motor yg sy pake mesin standart, busi standart. Salam Narik Gas.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s