Sandalku Tiket Surgaku

Assalamu’alaikum

 

Hari ini seperti kemarin, jam 9:30KSA kita siap2 berangkat ke ‘Harom’. Jumat kali ini ke Harom bersama tiga sahabat p’Yudo, p’Narto dan p’Tata Jawara. Seperti biasa, setiap kali bubaran Sholat Jumat jalanan dipeuhi lautan manusia yang habis ‘laporan’ ke Tuhannya. Jumlah yg tidak seimbang antara manusia dan mobil. Maka tidak heran apapun mobilnya pasti dihentikan. Begitu ‘mupeng’ nya kita alias muka pengen naik mobil. Tapi sayang harapan sering bertepuk sebelah tangan, karena tidak semua mobil mau berhenti untuk mengantarkan kami. Kadang bertanya dalam hati, “Apa mereka tidak butuh penumpang ya?” Dan mungkin malaikat juga akan berbisik lembut, “Hai calHaj, ini ujian wat Loe, asal tau ye ini ujian ringan, lom ade ape2nye. Kesempatan Loe deh bisa sabar ape kagak. Cobalah terus usaha cari tumpangan, janagn menyerah, okeh?” Hhhmm, sangat menyejukkan semangat ini.

081205-jumatan-img_44014

Alhamdulillah, Allah mendengar permintaan kami. Sayup-sayup terdengar ada yang menyebut Azziziah..Azziziah.. Azziziah daerah dimana saya bermukim. Wah ke arah ‘rumah’ Gw tuh. Mata dan telinga ini terus mencari darimana sumber suara itu. Sopir mini bus Toyota Hiace yang berjalan merayap di antara kerumunan orang kini menjadi incaran kami. Di bawah sengatan matahari dan siraman peluh ini kami berdua berlari mengejar mobi. Menggapai penuh harap hingga berhasil bergelayut di tangga mobil yg terus berjalan. Sementara saya naik ke atas mobil, sahabat saya p’Yudo tetap memilih bergelayut erat di tangga mobil sesekali memastikan apakah kami tidak terpisah dg yg lain. Ada rasa cemas berkelebat dalam desir angin kering di siang hari ini saat kami baru menyadari dua sahabat kami p’Narto dan p’Tata Jawara tak lagi bersama kami. “Ya Allah mudahkanlah dan lindungilah perjalanan hamba-Mu ini. Saat ini kami berpisah dg sahabat hamba, maka hamba titipkan sahabat kami kepada Engkau ya Allah, mudahkanlah usahanya mencari tumpangan dan selamat hingga di pondokan, amin”

081205-jumatan-img_44031

Seperti p’Haji dan bu Hajjah lihat, beginilah “Petualangan Sherina” saya dg p’Yudo. Saya duduk manis di atas mobil, p’Yudo bergelayut di tangga mobil. Mirip-mirip supporter bola deh (j/k).

081205-jumatan-img_44021

Kendaraan ini terus merayap membelah kerumunan manusia makin menjauh meninggalkan Harom. Mobil melaju semakin kencang membelah jalanan negeri Arab yang lebar dan panjang. Tidak seperti di negeri tercinta Indonesia, disini pohon sangat jarang ditemui, udara begitu kering dan yang pasti sinar matahari sangat terik menyengat kulit. Beberapa kali mobil berhenti untuk menurunkan penumpang, tak terkecuali beberapa warga keturunan india yang sama2 bergelayut di sebelah sahabat saya. Menyerahkan 2 lembar uang kepada sopir senilai 15Riyal untuk tiga orang. Sementara di atas mobil seorang anak kecil sibuk ‘menarik pajak duduk’, “Ten Riyal.. Haji ten riyal.. ten riyal” sambil melebarkan kedua tangannya ke muka saya. Bocah keling ini tidak banyak saya tanggapi. Menikmati pengalaman baru duduk di atap mobil sungguh mengasyikkan. Sesekali menyambung obrolan dengan penumpang lain yang beberapa kali terputus karena ulah si Bocah Keling. 

 

Aku Bayar Tarif ‘Angkot’ dg Sandalku

 

Saat ini mobil tinggal 4 penumpang. Sampai juga di jalan Abd. Khayat, Baterji Parmacy tak jauh dari pondokan dimana saya bermukim.  Turun dari mobil, selembar uang 5Riyal saya serahkan ke sopir, “Halal?” Wajah sopir yang dingin tanpa ekspresi memandang ke arah saya. Atau mungkin wajah penuh tanya? Ah entahlah. Pak Yudo pun mencoba meyakinkan, “Halal?” Sebuah pertanyaan yang tak kunjung berjawab hanya mobil yang pergi meninggalkan kami yg masih berdiri di pinggir trotoar. Gila bang, kita bayar 5Riyal bedua. Berangkatnya saja 3Riyal per orang. Berjalan menyusuri trotoar menuju pemondokan tanpa habis pikir.

 

Sore ini sandal putih bersih yg baru kemarin malam saya beli seharga 10Riyal masih setia menemani saya ke masjid. Telah tersedia lemari sandal tak jauh dari pintu masjid. Dan sudah semestinya sandal diletakkan dg rapi. Selepas sholat lemari sandal menjadi tujuan pertama saya. Dari sekian banyak kotak sandal yang ada tak satupun saya temui si putih berada. Waduw.. kemana sandal baru Gw? Dari atas ke bawah setiap tempat saya teliti dan memang si putih tak pernah lagi bisa saya temui. Hingga kebisuan yang menemani mata ini yang sedari tadi lelah mencari. Inna lillahi wa inna illaihi rojiun.. hembusan nafas ini lepas bersama istighfar yg kembali melegakan rongga dada yg semula sesak dg rasa kecewa. Ampuni hamba-Mu ini ya Allah.. Kini kusadari sandal baru itu telah pergi. Sekalipun sudah ada stempel “Abi Raihan” tidak menjamin si putih akan tetap bersama saya.

 

Lama istriku menunggu di seberang jalan, untuk pulang bersama-sama. Setengah tidak percaya saat pertama kali melihat langkahku yang berjingkat-jingkat melangkah tanpa alas kaki. “Lho Abi kok nyeker? Sandalnya kemana?” Senyum tipis ini mengajak untuk meninggalkan tempat ini menuju pemondokan. Menyisir jalanan dengan diam, merenung mencari jawab atas ujian yang baru dialami ini. “Sandal Abi dah laku Umi. Kali ini Abi harus pulang tanpa pakai sandal.” bait kata yang pertama kali meluncur saat itu. Hayo sana cepet istighfar, Abi punya salah apa sama Allah! Dan di otak ini penuh dengan wajah sopir angkot tadi siang, “Astaghfirullah…”

 

Saudara-saudaraku, p’Haji dan bu Hajjah yg dirahmati Allah, mungkin ini yang bisa saya share. Bahwa hari itu saya mendapat pelajaran, “Jgn pernah merasa bangga di atas penderitaan org lain(sopir angkot). Jangan pernah menang dan bahagia di atas keringat org lain, tidakkah itu artinya merampas hak mereka?” Bisa jadi mereka diam, tapi apakah mereka ridho. Bis ajadi mereka tidak mengeluh pada kita, tapi apakah mereka juga tidak mengeluh pada Tuhannya. Lalu bagaimana bila Tuhannya yang langsung menegur kita? Allah ridho bila hamba-Nya ridho.

Mungkin Allah telah ambil apa yang pernah kita ambil dari orang lain. Semata-mata karena Allah sayang agar kita tidak semakin terjerumus pada perbuatan dzalim sekecil apapun itu. Bisa jadi kita merasa memiliki sesuatu yg ada di saku baju kita, memiliki apa yang kita pakai. Tapi jgn lupa bahwa itu semua milik Allah, Allah hanya menitipkan. Dan aa-apa yang dititipkan pasti kelak akan diminta pemiliknya. Maka, kesempatan kitalah menjaga apa-apa yang dititipkan-nya dengan sebaik-baiknya.

 

Dan yg patut saya syukuri Allah masih sayang pada saya. Bukankah ibadah haji adalah untuk ‘mencuci’ diri agar kembali ke tanah air menjadi insan yg lebih bersih? Amin.

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s