Mitos Seputar Seks

Wednesday, July 23, 2003 9:14 AM

Apakah benar jika cara berjalan seorang wanita dapat menandakan bahwa dia masih perawan atau tidak? Ataukah masturbasi dapat membuat dengkul kehilangan isinya alias kopong? Berkaitan dengan mitos-mitos yang beredar seputar permasalahan seks, sepatutnya Anda menyimak hal-hal di bawah ini.

Perempuan berdada besar memiliki dorongan seksual yang besar pula.

Kecenderungan pria memandang dengan penuh fantasi pada wanita-wanita berdada besar, apalagi dalam kondisi yang terjaga membuat hadirnya mitos-mitos seputar nafsu dan hasrat seksual yang juga besar pada para wanita berdada besar ini. Faktanya memang hasrat seksual tumbuh dalam diri setiap individu semenjak masa pubertasnya. Hal ini disebabkan bekerjanya hormon seksual dalam diri masing-masing individu tersebut. Secara medis, tidak ada hubungan langsung antara ukuran payudara dengan dorongan seksual seseorang. Dorongan seksual disebabkan oleh berfungsinya hormon seksual yang didukung oleh kepribadian, pola sosialisasi, dan pengalaman seksual (melihat, mendengar, atau merasakan suatu rangsang seksual).

Keperawanan dapat dilihat dari cara berjalan dan bentuk pinggul

Tentu saja dalam kenyataannya faktor apakah wanita tersebut sudah pernah melakukan hubungan seks adalah penanda sosial yang dapat dilihat. Namun berdasarkan fakta, bentuk pinggul dan cara berjalan tidak dapat dikatakan menentukan seseorang masih perawan atau tidak. Keperawanan mempunyai aspek fisik yaitu mengacu pada selaput dara, yang hanya bisa diketahui melalui hasil pemeriksaan dokter. Jadi, hanya pemeriksaan khususlah yang memungkinkan diketahuinya selaput dara robek atau tidak serta penyebabnya.

Berhubungan seks pertama kali harus selalu ditandai dengan keluarnya darah dari Vagina. Kenyataannya, tidak selalu hubungan seks yang pertama kali itu berdarah. Selaput dara ini merupakan selaput kulit yang memiliki pembuluh darah. Apabila robekan terjadi pada bagian yang terdapat pembuluh darahnya maka terjadi perdarahan, tapi bila robekan tidak mengenai pembuluh darah, perdarahan tidak akan terjadi.

Masturbasi menyebabkan dengkul kopong

Masturbasi tidak menyebabkan dengkul menjadi kosong alias kopong. Karena sperma tidak diproduksi dan tidak disimpan di dalam lutut, melainkan di testis. Pada tubuh remaja laki-laki yang sehat, setiap hari sperma diproduksi lebih dari 50 juta sel. Setelah masturbasi, biasanya timbul rasa lelah karena masturbasi mengeluarkan energi. Itulah yang membuat lemas. Jadi rasa lemas ini bukan karena dengkul kopong. Dan dengkul Anda pun tidak akan pernah menjadi kopong.

Loncat-loncat setelah berhubungan seks tidak akan menyebabkan kehamilan

Jika Anda berpikiran bahwa sperma yang masuk dalam vagina wanita dapat keluar lagi jika dia melakukan aktivitas lompat, maka hal itu salah sama sekali. Anda tidak mau terlihat lucu bukan? Kenyataannya adalah ketika sperma sudah memasuki vagina, maka sperma akan mencari sel telur yang telah matang untuk dibuahi. Jadi, tetap saja akan mungkin terjadi pembuahan atau kehamilan. Jadi jangan gila deh, udah keringatan habis ‘bekerja’ masih juga mau ‘bermain’ lompat-lompat.

Sering masturbasi bisa membuat testis kering dan dapat mandul

Secara medis masturbasi tidak mengganggu kesehatan fisik selama dilakukan secara aman (tidak menimbulkan luka/lecet). Risiko fisik biasanya berupa kelelahan. Pengaruh masturbasi biasanya bersifat psikologis, seperti perasaan bersalah, berdosa, dan kadarnya berbeda-beda bagi setiap orang. Kemandulan biasanya akibat dari PMS (penyakit menular seksual) atau penyakit lainnya seperti kanker atau karena sebab fisik lainnya misalnya kualitas sperma yang kurang baik.  Jika Anda mencemaskan akan keringnya testis Anda, mungkin yang harus Anda cemaskan adalah luasnya wawasan Anda dalam memahami aktivitas dan seluk beluk seputar alat reproduksi dan proses seksual itu sendiri.

Mitos-mitos tersebut ternyata memang sudah berakar dan hidup subur di masyarakat. Pengaruh mitos-mitos tersebut masih sangat kuat, bahkan di antara kita masih banyak yang mempercayainya sehingga tidak jarang kita temui kasus-kasus yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi bermula dari keyakinan terhadap mitos- mitos tersebut. Hal itu terjadi karena tidak lengkapnya informasi tentang kesehatan reproduksi yang bisa kita akses, baik melalui lembaga formal seperti sekolah, keluarga, atau masyarakat pada umumnya.

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s