Kemana Mereka

( catatan harian Sept’08 )

Aku awali pagi ini dengan senyuman, walau mungkin wajahku masih berselimut debu dan asap jalanan ibukota. Tapi tebalnya debu ternyata tak sanggup sembunyikan indahnya senyuman. Pagi ini kupacu motorku dg kecepatan sedang, bukan krn sekarang bulan Ramadhan sehingga aku malas memacu kuda besiku, tetapi menikmati sejuknya udara pinggiran Jakarta hari ini. Mungkin krn kemarin malam habis diguyur hujan deras. Sehingga aroma khas tanah kering yg diguyur air masih kental tercium hidung.

Sore kemarin Pamulang memang diguyur hujan deras, sesaat menjelang berbuka puasa. Sengaja Aku pulang lebih awal dari biasanya. Pulang ke rumah menjemput Jagoan Kecilku yg sangat aku cintai. Menyusuri jalanan yang padat oleh lalu-lalang orang yg mungkin punya niatan sama denganku, ngabuburit. “Anak, mau buka puasa apa hari ini?” Anak, begitulah aku biasa memanggil jagoan kecilku. Sempat terlintas di benakku menu nasi goreng kambing ala Malang, bebek goreng ala Surabaya, tahu campur ala Lamongan yg semuanya adalah menu warung tenda favoritku. Terdengar celetukan dari belakang “Gimana kalo sea food?” sahut bidadariku anak dari mertuaku. Wah ok juga usulannya.

Duduk di meja sederhana beralas plastik yang sudah sobek di beberapa sisinya. Tak jauh dari kompor dan meja masak yg penuh dengan botol kecap-saus dan bumbu dapur yg berjajar rapi. Menikmati senja di pinggir jalan raya yg penuh dg lalu lalang kendaraan yang tampak terburu-buru mengejar maghrib di rumahnya masing-masing. Memandang pepohonan yg bergoyang ditiup angin, menerawang jauh langit yang berselimuti awan gelap pertanda akan turun hujan. Seorang tukang parkir menyapaku dengan ramah, “Mas sepertinya mau hujan, tasnya masih di luar.” Benar saja tidak lama bedug maghrib terdengar tanda waktu berbuka telah tiba beriringan dengan rintik hujan yg datang menyapa. Sementara di meja sea food pesananku sudah tersedia. Menyusul Tahu tek-tek yg Aku pesan dari warung sebelah dan teh tawar hangat. Ahh.. Alhamdulillah terhapus sudah dahaga hari ini. Tapi sepertinya ada yang kurang. Kurasakan ada sesuatu yg hilang. “Kemana mereka? Iya, ada yang tidak lagimenemaniku sore ini. Orang-orang yang sering Aku lihat.”

Ingatanku mengajakku mundur beberapa lembar kalender ke belakang. Di sebuah warung tenda di tepi Jalan Arteri Pondok Indah. Seorang ibu muda menggendong bayinya dg kain kumal beserta anak seumur jagoan kecilku yg digandeng di sisinya. Baju compang-camping dan raut muka pilu berbalut debu jalanan ibukota. Hari ini tak kujumpai mereka. Masih terrekam jelas moment itu saat Ramadhan tahun kemarin. Mangkok plastik kusam disodorkannya kepada setiap pengunjung warung satu per satu. Dg wajah memelas dan ucap lirihnya yg hampir tak terdengar berharap ada dermawan yg mau mengisi mangkoknya yang tampak kosong.

Hati ini begitu kerasnya untuk tidak mengeluarkan lembaran uang kala itu. Hatiku berteriak, “Tidak, Aku tidak kikir. Dan jangan pernah menjadi kikir.” Hanya ucap yang menyapanya, “Ibu sudah buka puasa?” senyumku menyapanya membuka pembicaraan. Gelengan kepala ibu itu dan tatapan kosong bayi kecil dalam pelukannya seolah menjawab semua tanyaku. “Sabar ya, tunggu sebentar.” Kutatap wajah bingung ketiga orang berbaju compang-camping itu yg kini tertunduk. Sementara wajah-wajah membuang muka para pengunjung warung yg lain seolah sibuk dg hidangannya masing-masing. Entah mungkin karena heran menyaksikan fragment singkat ini atau.. Ah, tak tahu lah Aku, hanya dia dan Yang Menggenggam Nyawanyalah yg lebih tahu isi hatinya. “Mbak, nambah lagi, tolong bungkusin deh!“ kuacungkan jariku memberi kode angka. “Buat siapa Mas?” Mbak penjaga warung tampak bingung. Tak satu ucap pun kini terdengar, senyap tidak seperti sebelumnya, hanya percikan minyak goreng yang mengisi kesunyian warung tenda sore itu. Senyumku menjawab kebingungan penjaga warung.

Hari ini Ibu dan 2 anaknya tak kujumpai lagi, Tak kujumpai pula remaja tanggung dengan kecrekan tutup botolnya yg mengamen tanpa suara dari bibirnya. Pikiran usilku sempat hadir, “Apakah mereka sudah makmur?”

Aku lupa namanya. Sebutlah Anto, nama anak jalanan yang satu ini. Anak ABG seusia anak SMP ini sering aku jumpai ngamen dari warung ke warung di sepanjang jalan raya pamulang. Beberapa kali bertemu dengannya saat ngemper di Warung pecel Lele depan Hero Pamulang. Tak begitu merdu memang mendengar kecrekan di tangannya, bahkan semakin hambar karena tak jelas lagu apa yg sedang dibawakannya. Hanya tatapan mata yg penuh harap yg bisa dimengerti. Tidak lama berdiri di sisi salah satu pengunjung warung melantunkan lagu yg dibawakannya. Terus beralih ke orang di sebelahnya sambil berharap ada uang yang keluar dari saku pengunjung warung yg bisa diterimanya. Sampai tiba giliranku, orang terakhir yg akan dihiburnya.

Ada langkah ragu saat akan mendekatiku, karena dia sadar sedari tadi Aku terus memperhatikannya. “Dik, sini, duduk sebelah saya.” Wajah gugup bercampur bingung tampak dari raut mukanya yang terlihat tergagap-gagap menghentikan nyanyian yang baru saja dimulainya. “Duduk saja disini.” Senyumku meyakinkannya untuk tidak takut dan mau mendekatiku. Menunggu pesananku selesai dimasak, ngobrol bersamanya menghadirkan suasana tersendiri. Lambat laun dia mulai merasa nyaman duduk di sebelahku. Bait-bait cerita meluncur dari mulutnya yang polos. Tentang orang tuanya yg hidup pas-pasan, ibunya yang hanya seorang tukang cuci sementara ayahnya dia enggan menceritakan. Tentang adiknya yang dia sendiri tidak tahu apakah hari ini sudah makan atau belum. Tentang keinginannya untuk bisa sekolah dan cita-citanya. Sampai pada sebuah kalimat yg terucap, “Saya pengen punya gitar” wajahnya semakin menunduk tak lagi mencuri pandang ke arahku. Suara polos dan perasaan malu saat kutanya bisa aku tangkap dari wajahnya yg tertunduk yang semakin terbenam menembus tanah.

Senyumku kembali membuka hatinya untuk meneruskan ceritanya. “Saya pengen sekolah seperti anak-anak yg lain, bisa belajar di rumah, tidak seperti sekarang tiap malam sering kali tidur di emperan gedung bioskop tanpa selimut tanpa bantal.” Untaian harapan yg begitu mendasar yg layak didapatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Hatiku terdiam mendengarkan cerita yg dia sampaikan. Jiwaku ikut berkelana ke tempat-tempat yang dia sebutkan. Menyusuri gedung bioskop tua yang sekarang tidak lagi digunakan, sesekali di hari minggu digunakan untuk kebaktian. Menyusuri pertokoan yang tampak ramai di siang hari dan sepi di malam hari. Ya Allah, siapakah yang Engkau hadirkan untukku kali ini? Malaikat-Mu kah? Ya Allah sepertinya Engkau sedang menghadirkan malaikat-Mu untuk menyapaku malam ini.

“Mbak, (pecel)lelenya bungkusin lagi ya!” wajah mbak penjaga warung tersentak kaget yg sedari tadi tanpa kusadari ternyata memperhatikan obrolan kami berdua. Mbaknya semakin salah tingkah serba bingung apa yang harus diambil dan apa yang akan dikerjakannya. Seorang pria dengan hidangan lezat yg duduk di seberang kami juga tampak serba kikuk saat mataku tak sengaja menatap wajahnya. Aku yakin walau mereka mencoba menutup mata dan telinganya, tapi hati tak kan begitu mudah diminta untuk ikut buta dan tuli. Mungkin ada setitik niat untuk berbagi dg sesama di hati mereka, tapi keberanian melakukannya yg belum mereka miliki.

“Ini untuk kamu, bawa pulang untuk makan hari ini, kamu belum makan kan? Yg ini kamu tabung.” Ada senyum tak terbendung dari wajahnya yang polos. “Terimakasih ya Mas, eh Pak.” Mungkin antara syukur dan bingung.

“Dik, boleh gak saya kasih saran?” wajah senyumku menyambut anggukannya. “Saya tahu kamu pengen punya uang kan? Untuk beli gitar, untuk makan, untuk sekolah.” Tanganku menepuk bahunya yang berbalut baju lusuh. Senyumku melanjutkan deretan kata yg terucap, “Yang tadi, kamu pake seperlunya ya, tp jangan lupa sebagian diamalkan”. Anggukannya mengantarkan dia menjauh dan pergi dari warung itu seiring hembusan angin malam yang semakin dingin menusuk tulang.

“Abi, hujannya (semakin)deras.” Jagoan kecilku yang duduk di sebelahku memecah lamunanku. Air kini mulai menetas dari atap terpal yang rupanya bocor. Memaksa kami untuk bergeser ke tempat lain. Sementara kilat dan sesekali gemuruh guntur terdengar di luar. Kami masih belum beranjak dari warung ini sekalipun hidangan kami sudah habis. Lalu “Kemana Mereka” saat ini?

Kutuliskan dengan mendung menggantung di mataku. Salam,

Advertisements

1 Comment

  1. Terkadang bingng menentukan, apakah peminta-minta itu benar-benar butuh atau tidak. kalau butuh kok meras berdosa kalau tidak memberi walau hanya sekedar ribuan. kalau mereka ternyata hanya peminta-minta gadungan kok ya merasa bagaimana gitu..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s