7 Peti Kematian (7 Deadly Bins)

“7 Deadly Bins and How to Avoid them”. Artikel berikut adalah 7 skenario tabrakan yg didasari dari kecelakaan yg sebenarnya dimana si pengendara2 motor ybs tewas. Mereka tak sempat menerangkan apa yg salah, jadi dibuatlah skenario ini, menghindari maut dan tetap selamat dgn mempelajari kesalahan mereka.

1. Perpotongan Jalur Berbahaya (Junction Jeopardy)

Pembunuh nomor satu, tabrakan di perpotongan jalur selalu sama dan berakibat serius, dapat terjadi pada siapa saja yg biasanya pengendara lain yg terlibat mengklaim bahwa mereka tak melihat ada motor datang, meskipun begitu pengendara motor bisa menghindari dgn defensive riding dan tetap awas.

Apa yg salah :

Pengendara motor berjalan di belakang sebuah mobil, ketika mobil tsb belok kiri, motor melaju bermanuver melewati mobil tsb di sisi kanan, ternyata dari arah kiri ada mobil lain yg melaju baik lurus maupun belok kanan/kiri.

Cara menghindar kesalahan :

– jangan pernah mendahului dari kanan dimana bisa jadi ada kendaraan masuk/belok di jalur anda tanpa peringatan, dahului dari kanan bila jelas2 perpotongan jalur tsb bersih dan aman tak ada kendaraan lain.

– masuki tiap perpotongan jalur dgn sebanyak mungkin penglihatan dan informasi, perhatikan posisi kendaraan dan lampu2 sen, tapi jangan menyimpulkan apa2. Nantikan yg tidak dinanti nanti.

– tangakan diri sendiri “sudahkah saya terlihat?”, pastikan anda di garis lihat pengendara mobil, kalau perlu terjadi kontak mata, bila ragu2 siapkan yg terburuk.

2. Tikungan yg Kacau (Cornering Chaos)

Jujur saja, tewas ditikungan adalah mati konyol, karena bisa dihindari dan tak ada alasan yg pantas utk itu. Tetap hidup, dlm kasus ini sangat sederhana, berkendaralah dgn keterbatasan anda. Status membuktikan bahwa pengendara motor tak berpengalaman atau yg sudah lama tak bawa motor adalah yg terbanyak mendapatkan kecelakaan ini, yg mengejutkan adalah terjadi meski jalan tidak basah.

Apa yg salah :

Pengendara motor memasuki tikungan terlalu cepat hingga gagal prediksi radius tikungan dan tak sempat melihat keadaan di ujung tikungan lalu berada di garis tikung yg tdk tepat hingga terlalu dekat dgn jalur arah lawan dan gagal menikung dgn benar hingga panik (ada yg menurunkan gas dan mengerem) hingga ketika keluar tikungan motor malah lari jauh ke arah lawan hingga bertabrakan dgn kendaraan dari depannya.

Cara menghindar kesalahan :

– rem dan atur posisi gigi segera, atur kecepatan hingga bisa merubah jalur menikung bila diperlukan, perhatikan keadaan tikungan bila ada tanda2 marka jalan kemana arah tikungan tsb.

– masuki garis tikungan dgn penglihatan terbaik utk melewatinya – bukan garis tikungan balapan, dgn menyisakan ruang antara anda dan kendaraan dari arah lawan.

– jika tiba2 tikungan menyempit (baik keadaan jalan maupun ada kendaraan lain), jangan panik, karena panik bisa membuat motor hilang kendali.

3. Mendahului yg Kebablasan (Overtaking Oblivion)

Tabrakan ketika mendahului adalah kasus paling banyak ke tiga dlm kecelakan motor, meskipun si pengendara motor biasa dan bisa mendahului kendaraan yg melaju lebih lambat.

Apa yg salah :

Pengendara motor melaju terlalu dekat pada kendaraan didepannya hingga banting setir kekanan dan berusaha mendahuluinya, ternyata didepan kendaraan tsb ada kendaraan lagi hingga si pengendara motor berusaha melewati keduanya, karena salah perhitungan dan salah atur jarak lalu keluar jalur masuki arah lawan dgn tak ada waktu dan jarak lagi utk pindah jalur hingga terjadilah tabrakan dgn kendaraan dari arah lawan.

Cara menghindar kesalahan :

– kunci mendahului adalah perencanaan yg matang, jangan gak sabaran, terburu2 atau agresif, posisikan diri anda dgn penglihatan terbaik kearah jalan didepan, pastikan posisi gigi yg pas utk menaikkan akselerasi.
– perhatikan jalan didepan dgn seksama, adakah hal2 yg berpotensi bahaya? jika ada sedikit saja keraguan di hati, jangan mendahului!, karena sebentaran saja anda dapat lagi kesempatan utk mendahului.
– lihat kaca spion dan area yg tak nampak di kaca spion lalu nyalakan lampu sen dan segera mendahului secepat dan semulus mungkin, ambil segera jalur semula dan jaga ruang antara anda dan kendaraan lain seluas mungkin.

4. Pemilahan yg Rusak (Filtering F**k-Up)

Bisa memilah melaju melewati kendaran2 di jalanan yg ramai adalah praktis maju yg terbesar dalam mengendarai motor sekaligus berbahaya.

Apa yg salah :

Pengendara motor melaju terlalu cepat di jalur 2 atau 3 dgn estimasi kecepatan 45kpj lebih cepat dari kendaran lain disekitarnya yg akan didahului, tiba2 salah satu kendaraan bermanuver pindah jalur tepat didepannya hingga si pengendara motor tak bisa menghindarinya dan terjadilah tabrakan.

Cara menghindar kesalahan :

– berkendaralah dgn kecepatan yg memungkinkan anda utk berhenti atau bermanuver dgn tepat, disarankan jangan lebih dari 15kpj dari kendaraan lain disekitar yg akan didahului.

– duduk tegak dan fokus terhadap jalan didepan, perhatikan tanda2 yg berpotensi bahaya, awas terhadap lampu2 sen kendaraan lain, perempatan2, pejalan kaki yg nyebrang dll, sisakan ruangan antara anda dan kendaraan lain.

5. Berkendara kelompok yg Berdukacita (Group Riding Grief)

Berkendara dgn teman2 bisa menyenangkan sekaligus dapat menimbulkan masalah. Berkendara kelompok tdk termasuk dlm catatan resmi kasus kecelakaan bermotor, tapi secara tetap tercatat sbg faktor penyumbang yg tidak bisa diabaikan. Porblem terbesar adalah si pengendara motor beresiko kecelakaan karena keinginan utk show off atau pamer kebisaanya bermotor didepan teman2nya. Berkendaralah dgn kenyamanan anda sendiri, jangan terpancing oleh ulah teman anda.

Apa yg salah :

4 motor atau lebih berkendara kelompok, dgn 3 motor di belakang sebuah kendaraan lain dan satu motor didepan kendaraan lain tsb sekalgus di belakang kendaraan lain, satu dari 3 motor dibelakang mencoba mendahului, tiba2 satu motor didepan tsb juga mendahului kendaraan didepannya tanpa memberi tanda dan tak melihat spion, motor yg dibelakangnya tak sempat menghindar hingga terjadi tabrakan.

Cara menghindar kesalahan :

– kecuali anda memiliki kepercayaan penuh terhdp teman2 kelompok berkendara di sekitar anda, tetaplah dalam formasi dan memberi ruang gerak yg banyak utk mereka, jangan coba2 menerka apa aksi dan manuver yg akan mereka lakukan.

– beri kejelasan terhadap teman2 kelompok berkendara di sekitar anda bila anda ingin bermanuver, menolehlah dan beri tanda2 yg jelas.

– ketika mendahului, pertimbangkan pula teman2 kelompok berkendara di sekitar yg dibelakang dgn memberi ruang gerak yg cukup. jika mengikuti motor lain, jangan dasari gerak mendahului anda dgn motor yg ada didepan.

6. Tragedi Putaran (Turn Tragedy)

Ada beberapa kecelakaan yg melibatkan kendaraan yg memutar di U-Turn dgn pengendara motor yg melaju dari arah lawan. Pengendara motor biasanya jarang disalahkan terhadap jenis kecelakaan ini, tapi tetaplah berhati.

Prediksi dan bereaksi akan kecepatan dan keberadaan kendaraan lain di jalur lawan dari kemungkinan berputar tiba2, jangan percaya pada lampu sen yg diberikan karena bisa terjadi kesalahpahaman (seperti ketika berputar memberi sen kanan, tiba setelah dijalur lawan masuk ke kiri jalur).

Beri ruang gerak jika nampaknya kendaraan dari arah lawan akan berputar, jika mendahului di satu jalur yg padat merayap, kendaraan yg antri didepan biasanya bermanuver kekanan mencari celah jalan didepannya.

7. Tabrakan belakang (Rear-end Wreck)

Melaju kencang di belakang kendaraan lain sepertinya terdengar bodoh ya? bisa jadi, tapi mengejutkan, terhitung 10% kecelakan bermotor dalam 9 grup contoh kecelakaan fatal dan menurut status, pengendara motor biasanya banyak disalahkan dalam kecelakaan jenis ini daripada kecelakan jenis lain, juga menunjukan terjadi pada pengendara motor yg masih muda, laki laki dan mengendarai motor yg kecil.

Perhatikan jalan didepan, jangan terganggu dgn “pemandangan” yg ada disekitar, bereaksilah segera terhadap lampu rem yg menyala didepan atau tanda2 yg menyebabkan terjadinya kelambatan didepan.

Kenali rem motor anda, banyak pengendara motor tak menyadari potensi akan rem motor mereka, sering2 lah tes rem mendadak dan kuat rem motor anda di empat yg sepi dan beraspal bagus utk mengetahui seberapa cepat motor anda berhenti, jangan berhenti mencoba pada tes pertama, terus lah mencoba, usahakan berangsur angsur hingga didapatkan perhentian yg maksimal.

Kesalahan dalam Percobaan (Error on Trial)

Kecelakaan tidak begitu saja terjadi, ada sebabnya. Kesalahan manusia menjadi faktor utama. Berlawanan dari opini populer yg ada, tak semua kecelakaan disebabkan oleh pengemudi mobil, pengendara motorpun berbuat kesalahan. Dari Error on Trial yg dilakukan didapat data sbb :

Mobil

– gagal melihat dgn semestinya 18%

– gagal memutuskan10%

– kecerobohan 9%

– manuver yg buruk 8%

– kehilangan kendali 8%


Motor

– kehilangan kendali 14%

– gagal melihat dgn semestinya 14%

– gagal memutuskan10%

– manuver yg buruk 10%

– kecerobohan 9%


artikel investigasi khusus ini disadur bebas dari kolom Feature Stop Crashing Superbike Magazine edisi April 2007 halaman 62, berjudul “7 Deadly Bins and How to Avoid them”, ditulis oleh Dave Bradford, foto oleh Graeme Brown & ilustrasi oleh Huw Williams.

Memahami Psikologi Pengendara

Dalam salah satu talk show di sebuah radio swasta tentang fenomena sepeda motor yang semakin semrawut, ada salah satu pendengarnya mengirim SMS yang berisi: bagi pengendara motor, disarankan agar membawa empat hal: (1) bawalah helm untuk melindungi kepala jika terjadi kecelakaan, (2) bawalah SIM dan STNK agar tidak ditilang, (3) bawalah jaket dan jas hujan untuk menghindari panas atau dingin, dan (4) bawalah “otak” jangan sampai ketinggalan di rumah agar tidak celaka dan mencelakai.

Isi SMS tersebut, ada satu hal yang cukup menarik, yaitu pesan nomor (4) tentang pentingnya pengendara motor membawa “otaknya”. Maksud dari sang pengirim SMS tersebut adalah bahwa rata-rata pengendara motor, khususnya di Jakarta, lebih banyak tidak berhati-hati dari pada yang hati-hati, sehingga membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Tentu, SMS tersebut bukan hal yang mengejutkan buat kita. Karena pengendara motor di Jakarta seperti raja jalanan yang dianggap menggantikan predikat bus Metromini sebelumnya.

Menurut pengendara mobil ketika diminta pendapatnya tentang pengendara motor, maka hampir dipastikan mereka berkomentar miring. Dalam beberapa kali kesempatan berbincang dengan sesama pengendara mobil, mereka rata-rata menjawab dengan penilaian yang bersifat simplitis bahwa pengendara motor itu dikatakan tidak berbudaya, tidak memiliki aturan, tidak memiliki perasaan, ingin menang sendiri, dan seterusnya. Intinya, bagi pengendara mobil, mayoritas pengendara motor itu minta ”dipahami” oleh pengendara mobil.

Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa pengendara motor itu rata-rata memiliki karakter yang sama ketika di jalan raya? Bahkan yang sebelumnya menggunakan berkarakter lembut, namun begitu menjadi pengendara motor aktif karakternya menjadi lebih agresif, galak, bahkan cepat marah, meskipun tidak berlaku bagi semua kasus. Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena faktor psikologis yang mempengaruhi mentalnya. Penulis sendiri juga pernah menjadi pengendara motor selama kurang lebih 1 tahun setiap hari, dari rumah ke kantor dengan jarak tempuh 1 jam 15 menit. Menurut pengamatan penulis, secara psikologis, pengendara motor itu menginginkan agar lebih didahulukan daripada mobil. Perasaan merasa benar pengendara motor itu selalu ada, khususnya ketika berhadapan dengan mobil. Rata-rata, dalam alam pikiran pengendara motor itu menganggap pengendara mobil itu lebih kaya, enak di dalam ada AC dan sebagainya, sehingga mereka harus mengalah dengan motor.

Menurut Sarlito Wirawan dalam bukunnya Psikologi Prasangka orang Indonesia (2007), bahwa prasangka yang dibangun secara terus menurus dapat menimbulkan jalan pintas (heuristic) yang efeknya dapat memicu kasus-kasus sosial, seperti memuncaknya emosi yang tidak terkendali. Bagi sebagian pengendara motor memiliki prasangka terhadap ”lawannya” (mobil pribadi, bus, truk dll) yang menyebabkan pada sikap jalan pintas yaitu kesimpulan langsung yang tidak didasarkan pada pemikiran atau analisa yang mendalam. Pengendara motor berprasangka bahwa pengendara mobil itu enak, dingin karena ada AC, secara ekonomi cenderung lebih kaya dan mobil memiliki bodi yang lebih besar sehingga pantas untuk mengalah. Demikian juga bagi pengendara mobil berprasangka bahwa semua pengendara motor itu tidak tertib dan ingin menang sendiri, sehingga mereka tidak perlu harus dituruti kehendaknya. Akibat dari itu semua, maka terjadilah banyak kecelakaan, dan percekcokan antar mereka.

Muncul pertanyaan, ada berapa persen pengendara motor yang baik? Jika dikalkulasi secara kasar, mungkin pengendara motor yang taat dibawah 10%. Maksudnya, pengendara yang baik adalah pengendara yang taat terhadap lalu lintas dan memiliki sopan santun dalam berkendara. Sopan santun berkendara itu meliputi menghormati pengguna jalan raya lain, tidak merasa menang sendiri, bersikap legowo terhadap kondisi dan tidak cepat emosi. Sedangkan selebihnya, sekitar 90% pengendara motor itu tidak taat rambu lalu lintas seperti menerjang lampu merah, mengendarai seenaknya seperti naik trotoar, main potong jalan meskipun sempit, lebih cepat emosi jika jalannya terganggu (meski posisi salah) dan merasa ingin menang sendiri. Akibat dari itu semua, kecelakaan di jalan raya tidak dapat dihindari hingga mencapai 70% yang diduga melibatkan motor.  

Ada sebuah cerita yang membuat bulu kuduk kita merinding. Cerita ini dari abang taksi yang kebetulan penulis mintai tanggapan tentang fenomena motor yang semrawut. Menurutnya, dia pernah dihina, diejek, dan dibentak oleh seorang pengendara motor di perempatan lampu merah. Intinya motor minta jalan, sementara posisi mepet sekali, sehingga abang taksi terpaksa tidak menggubris permintaannya. Karena taksi dianggap tidak memberi jalan, maka sang pengendara motor mencaci maki sambil menggedor-gedor body mobil taksi. Sebenarnya, si abang taksi sangat jengkel dan ingin melawan, tetapi karena kondisi tidak memungkinkan, maka dia lebih memilih menyimpan kejengkelan itu. Namun begitu lampu merah menyala hijau, si abang taksi menyimpan demdam dengan mengejar pengendara motor yang dinilai berlebihan. Sesampainya di jalan yang sepi dan dirasakan aman, si abang taksi kemudian menabrakkan mobilnya ke pengendara motor hingga si pengendara motor tersungkur .

Oleh karena itu, pesan SMS di atas menjadi sangat relevan agar pengendara motor lebih hati-hati, gunakanlah akal, pikiran, perasaan dan hati agar perjalanan aman dan tidak terjadi kecelakaan, baik diri sendiri maupun berakibat pada orang lain. Tentu ini juga berlaku bagi pengendara mobil untuk tidak mudah berprasangka dengan tetap menghargai pengendara motor. Karena motor itu sangat ringkih, menabrak jatuh, ditabrak jatuh, menyenggol jatuh, disenggol jatuh, bahkan mengerem agak mendadak sekalipun juga bisa jatuh. Sehingga terdapat kesimpulan simplitis bahwa mengendari motor itu seperti menyerahkan lebih dari 50% nyawanya kepada jalan raya.

Written by Thobieb Al-Asyhar

Tuesday, 21 October 2008

Lu Di, suami dan ibu mertuanya

From: Dewi Arti
Sent: 2009-02-27 11:57

Jangan “ngambek” berkepanjangan terhadap org yg kamu kasihi


Bagi yg sudah pernah baca, luangkan waktu untuk baca sekali lagi

Ini adalah cerita sebenarnya ( diceritakan oleh Lu Di dan di edit oleh Lian Shu Xiang )

 

 

Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga. Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya sudah terlambat.

 

 

Setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama . Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah. Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya.

 

Suami berdiri di depan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata, “Mari, kita jemput nenek di kampung”.

 

Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan ke dalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham di antara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi di atas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

 

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami, “Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?”

 

Aku menjelaskannya kepada nenek, “Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira.” Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa, “Ibu, ini kebiasaan orang kota, lambat laun ibu akan terbiasa juga.”

 

Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu. Setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengkan kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan, dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa. Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras. Suamiku memencet hidungku sambil berkata, “Putriku, kan kamu bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya.”

 

Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik. Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.

 

Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi di saat musim dingin.

 

Nenek kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot. Misalnya dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik. Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur.

 

Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masukke kamar sambil membanting pintu dan menangis. Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah. “Apa salahku?” Dia melotot sambil berkata, “Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan piring itu bisa membuatmu mati?”

 

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg cukup lama, suasana mejadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa?

 

Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?

 

Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan di luar pada saat berangkat kerja.

 

Saat tidur, suami berkata, “Lu Di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?” sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata, “Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi.” Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

 

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai di sana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri di depan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, di luar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!. Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Menyambut anggota baru, tetapi dibayar dg nyawa nenek

 

 

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan.

 

Akhirnya teman sekerjaku berkata, “Lu Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter.” Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

 

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku.

 

Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun, tetapi mimpiku tidak menjadi kenyataan. Di dalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

 

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam, aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

 

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya. Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung. “Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit”. Mulutku terbuka lebar.

 

Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku.

 

Sambil menangis aku menjerit dalam hati, “Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?” Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.

 

Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika… dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.

 

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku.

 

Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.

 

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk ke dalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam ke arahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian. Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.

 

Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi, semua berlalu begitu saja.

 

Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

 

Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk di depan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi.

 

Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya, “Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya.” Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.

 

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya. “Lu Di, kamu hamil?” Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab, “Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi.” Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan.

 

Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yang sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali. Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:”Maafkan aku,maafkan aku”. Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta di antara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.

 

Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya.

 

Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas. Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek.

 

Malam hari,terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa, itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki? Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir.

 

Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

 

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku.

 

Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?

 

Sampai di pintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tanganya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.

 

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matany, aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini. Kata dokter, “Kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat.” Aku tanya “Kapankah kanker itu terdeteksi?” “5 bulan yg lalu….” kata dokter, “Bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk.”

 

Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer. Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara. Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami. “Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Di dalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi.

 

Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah. “Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai.” Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap di dalamnya.

 

Dia juga menulis sebuah surat untukku. “Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah member tahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya”.

 

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata:”Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya.” Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum… anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah memotret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata…

 

Teman2 terkasih,aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini.

Ingatlah pesan dari cerita ini : “Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok?”

 

Ada sebuah pertanyaan:”Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? Atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirkanlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.”

 

Diterjemahkan secara bebas oleh aku…

 

Cerita Yg Blm Selesai

From: Nurmalasari

Sent: 2009-02-27 08:04

Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita ???

Hari itu,,, aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita. Aku menjadi perempuan yg paling bahagia. Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah. Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu. Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula. Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya. Kami berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran. Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci. Aku sangat bahagia dengan nya, diya sangat memanjakan aku. Sangat terlihat rasa cinta dan sayangnya pada ku. Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah dengannya.

5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu berjalan, walaupun kami hanya berdua saja. Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami. Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya.

Alhamdulillah suamiku mendukung ku. Ia meanggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-Nya. Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah ibu & adiknya tidak menyukaiku, aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, tapi aku menutupi dari suami ku. Di depan suami ku mereka sangat baik pada ku, tapi di belakang suamiku aku dihina-hina oleh mereka.

Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suamiku selamat dari maut yang hampir membuatku menjadi seorang janda. Ia dirawat di rumah sakit. Pada saat dia belum sadarkan diri aku selalu menemaninya siang & malam, kubacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an, aku sibuk bolak-balik rumah sakit dan tempat aku melakukan aktivitas sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan satu lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab dengan ibunya. Mereka tertawa menghibur suamiku. Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suamiku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di depannya.

Kubuka pintu yg tertutup rapat itu,sambil mengatakan “Assalammu’alaikum” mereka menjawab salamku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku, suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari matanya selalu tertutup. Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya yg erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salamku dengan suaranya yg lirih tapi penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Ibu nya lalu berbicara sama aku, “Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri.”

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku biacara di dalam ruangan, aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan. Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik iparku yg bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik iparku berkata “Lebih baik kau pulang saja. Ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja.” Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat, karena sikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku, tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia mengatakan hal yg sama, ia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak pamitan pada nya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dlm kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya  dibagi dengan yang lain.  Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggilku ke taman belakang, ia baru saja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami, sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.

Aku bertanya, “Ada apa kamu memanggilku?”

Ia berkata, “Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang.”

Aku menjawab, “Ia sayang aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan?”

“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sdh lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku kan pulang dengan mamaku.” Jawabnya tegas.

“Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana ?” tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu, padahal aku bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

“Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti” jawabnya tegas.

“Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?” lanjutnya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan padanya. Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya. Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku, aku memutuskan agar ia saja yg pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami. Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh keluarganya harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus datang atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluannya yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh di pipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi. Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya teman, hanya pembantu saja teman ngobrolku. Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya. Sampai keesokan harinya, aku menangis, menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang. Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami buruk, saat ia disana aku pun jatuh sakit. Rahimku sakit sekali seperti dililit oleh tali, tak tahan aku menahan rasa sakit di rahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3. Aku menangis, apa yang bisa aku banggakan lagi. Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang berharap akan punya keturunan dari rahimku. Aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan aku hanya memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang, kapan ia pulang, aku tak tahu. Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku, Lebih baik aku tutupi dulu dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang. Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya.

Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung. Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang masuk. Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms, ia menulis “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku kabarin lagi“. Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini.

Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah. Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya ia pun mengucap salam, sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mw ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya? Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik keatas, ia langsung mandi dan tidur, tanpa bertanya kabarku. Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaannya sampai aku pun tertidur.

Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat  mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta. Biasanya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihatnya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya, aku elus mukanya, aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku liat dia dari balkon kamar kami dia bersiap-siap untuk pergi, aku memanggilnya tapi ia tak mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi, ada apa dengan suamiku. Mengapa ia sangat aneh terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon ke rumah mertuaku, kebetulan Dian yang angkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab “Loe pikir aja sendiri!” telpon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakanku. Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya, aku dari mana dan mengapa pulang terlambat, ia bertanya dengan nada yg keras, suamiku telah berubah. Bahkan yang membuatku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu yang aku pegang, aku hanya berdo’a agar suamiku sadar akan prilakunya.

2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis tiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja kenal, kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiapi segala yang ia perlukan. Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan ia tak pernah bertanya obat apa yang aku minum. Kebahagiaanku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji jadi aku tak perlu repot-repot meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang telah menjadi orang asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai, suamiku memanggilku.

“Ya, ada apa Yah !” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.

“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya !” Jawabnya tegas

“Ada apa? Mengapa?” sahutku penuh dengan keheranan.

Astaghfirullah… suamiku yang dulu lembut menjadi kasar, dia mebentakku, tak ada lagi diskusi antara kami.

Dia mengatakan ” Kau ikut saja jgn byk tanya !”

Aku pun lalu mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku yang tak kukenal lagi. 2 Tahun pacaran, 5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Kulihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin, sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berrontak tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang, dia bilang perbuatan itu menunjukkan ketidak hormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini sendiri.

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur, karena terus berpikir. Keluarga besarnya telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya, aku tidak tahu ada acara apa ini? Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah di dalam kamar tua itu, ia pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dlm lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu telah ada sebelum suamiku lahir.
Tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggilku untuk segera berkumpul di ruang tengah, aku pun ke ruang keluarga yag berada di tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda langit-langitnya lebih dari 4 meter. Aku duduk di samping suamiku, suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya, tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya membuka pembicaraan.

“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha!” Neneknya bicara sangat tegas. Dengan sorot mata yang tajam.

“Ada apa ya Nek ?” sahutku dengan penuh tanya.

Nenek pun menjawab, “Kau telah gabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna, sebab selama ini kau selalu keguguran!”

Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk dihina atau di pisahkan dengan suamiku.

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu, sebelum kau menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau diatur dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua. Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.

“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya” Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu. Sedangkan suamiku hanya diam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia berkata “Kau maunya gimana? Kau dimadu atau diceraikan?”

Masya Allah, kuatkan hati ini, aku ingin jatuh pingsan, hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku, mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku? Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

“Fish, jawab!” dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.

Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas,  “Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru di rumah kami.” Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi, pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku di rumah kita nanti Yah?”

Suamiku menjawab “Dia Desi!”

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara “Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?”

Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

“Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok” setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi, sakit diiringi akutnya penyakitku. Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini? Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sudah tidak cantikkah aku ini, kuambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok, kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis, kepalaku sudah botak di bagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku datang, ia berdiri di belakangku, tak kuhapus air mata ini aku langsung memandangnya dari cermin meja rias itu. Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “Terimah kasih ayah, kamu memberi sahabat kepadaku, jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?”

Suami ku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya knp rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo, dalam hatiku mengapa ia sangat cuek? Ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia bilang, “Sudah malam, kita istirahat yuk!”

“Aku sholat isya dulu baru aku tidur” jawabku tenang.

Dalam sholat, dalam tidur aku menangis, kuhitung waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku. Aku tak tahu kalo Desi orang Sabang juga. Sudahlah ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku, dimana rasa sayang dan cintanya itu.

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku. Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang tidur pulas, apa salahku sampai ia berlaku kejam kepadaku? Aku save di my document yang bertitle “Aku mencintaimu Suamiku

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar, aku berdiri di dekat jendela, aku melihat matahari, mungkin aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama, lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku, “Apakah kamu sudah siap?”

Kuhapus airmata yang menetes di wajahku sambil berkata, “Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk ke dalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu lalu setelah itu…..” tak sanggup aku ingin meneruskan pembicaraan ini, aku ingin menangis meledak.

Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda ?” Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk, aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…

“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?” pinta ku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata “Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?” sambil ia menghelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sidikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.

Dia tersenyum, sambil berkata “Kita liat saja nanti ya !” dia memelukku dan berkata,

“Bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama” lalu ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja?  Mengapa ayah berubah? Aku kangen sama ayah? Aku kangen belaian kasih sayang ayah? Aku kangen dengan manjanya ayah? Aku kesepian ayah? Dan satu hal lagi yang harus ayah tau bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama ayah baru bisa aku terima, jika yang di hadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. “Bukan berarti aku pernah berzina ayah.”

Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, “Aku minta maaf ayah, telah membuatmu susah.”

Saat itu juga, diangkatnya badanku, ia hanya menangis. Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku, dan ia bertanya “Bunda baik-baik saja kan” tanyanya dengan penuh khawatir.”

Aku pun menjawab, “Bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah membuatku baik Yah” aku tak bisa bicara sekarang. Karena dia akan menikah. Aku tak mau buat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

Setelah tiba di masjid, ijab qabul pun dimulai. Aku duduk di seberang suamiku. Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan “Ayah, jangan!” tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab qabul tersebut. Begitu ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini, ya, aku kuat. Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku sangat aneh, wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis.

Sampai di rumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan prilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini? Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku tak seperti aku yang dimusuhinya.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tau apa yang mereka lakukan di dalam. 1/3 malam, pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur di sofa ruang tengah, kudekati lalu kulihat…. Masya Allah, suamiku tak tidur dengannya, ia tidur di sofa, aku duduk di sofa itu sambil mengelus mukanya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget. “Kamu datang ke sini, aku pun tau” ia langsung berkata seperti itu, aku tersenyum dan megajaknya sholat lail.

Setelah sholat lail, ia mengatakan “Maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena egonya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa Dan juga adik-adikku.” Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah merasakan kehadirannya saat ini.

Tapi masih bisakah Engkau ijinkan aku untuk mersakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini. Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan. Aku pun berkata “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”

“Aku kangen sama kamu Bunda.”

Aku tak mau menyakitimu lagi, kamu sudah terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu. Lalu suamiku berkata, ” Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus mencintai ayah, Bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah, dan satu lagi ayah pernah melihat sms Bunda dengan mantan pacar Bunda dimana isinya klo Bunda gk mw berbuat seperti itu, dan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”),

ayah ingin ngomong tapi takut Bunda tersinggung, dan ayah berpikir klo Bunda pernah tidur dengannya sebelum Bunda bertemu Ayah, terus Ayah dimarahi oleh keluarga Ayah karena Ayah terlalu memanjakan Bunda.”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini. Aku hanya menjawab “Aku sudah ceritakan itu kan Yah, Aku tidak pernah berzinah, dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa kamu? Banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu. Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian di kamar pengantin itu.”

Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga. Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

Keesokan harinya. Katika aku ingin bangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali, aku pendarahan, suamiku kaget. Suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku. Aku pun dilarikan ke rumah sakit. Jauh sekali aku mendengar suara zikir suamiku. Aku merasakan tanganku basah. Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran. Ia menggenggam tanganku dengan erat. Dan mengatakan ” Bunda, Ayah minta maaf.” Berapa kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku.

Aku berkata dengan suara yang lirih, “Yah, Bunda ingin pulang, Bunda ingin bertemu kedua orang tua Bunda, anterin Bunda kesana ya Yah. Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya Yah… ! Bunda sayang banget sama Ayah.”

Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin ke atas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku, kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya. Sebelum mata ini tertutup kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku. Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka, Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah. Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafas ku.

Untuk Ibu mertuaku :

Maafkan aku telah hadir di dalam kehidupan anakmu sampai aku hidup di dalam hati anakmu, ketahuilah Ma, dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku di depan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi dengan ku, menantumu kau bersikap sebaliknya.”

Setelah ku buka laptop,ku baca curhatan istriku

Ayah,,mengapa keluargamu sangat membenciku

Aku dihina oleh mereka ayah.

Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?

Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena dia adik iparku tapi aku disambut denagn wajah ketidak sukaannya.

Sangat terlihat Ayah.

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku.

Mengapa seperti itu ayah?

Aku tak bisa berbicara ttg ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu,

tak ada gunanya Yah.

Aku diusir dari rumah sakit. Aku tak boleh merawat suamiku.

Aku cemburu paad Desi yang sangat akrab dengan mertuaku

Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku

Aku sangat marah….

Jika aku membicarakn hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan ibunya.

Aku tak mau sakit hati lagi.

Ya Allah kuatkan aku,,maafkan aku

Engkau Maha Adil. Berilah keadilan ini padaku Ya Allah

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi padaku.

Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu.

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini.

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku.

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu

Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.

Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.

Aku harus sadar diri

Ayah,,sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.

Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ?

Ayah aku masih tak rela

Tapi aku harus ikhlas menerimanya

Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir

Sebelum ajal ini menjemputku

Ayah…aku kangen ayah

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bun. Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi ke Pulau Kayu ini. Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri. Bunda tetap cantik, selalu tersenyum di saat tidur. Bunda akan selalu hidup di hati ayah.

Bunda. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah. Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya. Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, dalam kesendirianmu.

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus. Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan Bunda. Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui. Aku menyesal telah asik dalam keegoanku. Bunda maafkan aku. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang. Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.

Maafkan aku ketika kau difitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja. Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana? Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia di alam sana? Tunggulah Ayah disana Bunda. Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini…… Aku mohon…..

Ayah Sayang Bunda….

‘Banjir’ di Karburator

Pabrikan motor, sepertinya seragam satu sama lain. Mereka bagai tak hendak menerapkan teknologi maju untuk produk berkapasitas mesin di bawah 150 cc. Salah satu yang paling menonjol dan terbilang sebagai gejala konvensional adalah menyangkut piranti pembakaran yang masih menggunakan karburator.

Dan repotnya, motor baru sekalipun, karena berteknologi karburator tak jarang sering mengalami 'banjir'. Sebuah gejala menjengkelkan, yakni masuknya bensin dalam jumlah berlebihan dalam ruang bakar, sehingga mesin tak mau hidup.

Bila 'banjir' bertandang, ujungnya motor pun susah dihidupkan dan bau bensin segera menyengat kemana-mana. Berikut upaya menyiasati ancaman 'banjir' dan kegiatan rutin yang perlu dilakukan demi terawatnya karburator motor Anda.

Hadapi 'banjir' dengan tenang
Karena sejumlah sebab, bisa saja tiba-tiba motor Anda mati mesin. Lalu, tak kunjung mau hidup walau stater otomatis telah dipencet. Bahkan, motor pun terus dicoba dihidupkan untuk mendapat putaran awal. Buntutnya semerbaklah bau bensin. Bila ini yang dialami, maka itulah serangan 'banjir' karburator.

Menghadapi ini, memang harus tenang dan coba matikan kunci kontak dan kembali hidupkan secara manual beberapa kali hingga bau bensin berkurang. Disarankan tidak menggunakan fasilitas stater otomatis, bila menghadapi kondisi ini.

Kembali aktifkan kunci kontak, dan hidupkan lagi secara manual beberapa kali tanpa perlu memutar gas. Kalau benar motor Anda hanya mogok karena 'banjir' maka kegiatan ini bisa menjadi solusinya.

Bila kegiatan itu tak berbuah hasil, bisa jadi itu karena kondisi motor terlanjur 'basah' hingga busi pun telah dilumuri bensin. Maka disarankan untuk segera membuka busi dan membersihkan serta mengeringkannya. Coba sekali lagi dengan urutan serupa di atas. Dijamin motor Anda akan kembali berputar mesinnya.

Jangan putar gas saat motor berhenti
Kondisi 'banjir' banyak penyebabnya. Antara lain karena motor sering di putar gasnya dalam posisi berhenti. Maka bila mesin motor dalam kondisi mati, jangan iseng memutar gas layaknya motor berjalan.

Tak idealnya kerja karburator menjadi penyebab lain. Bila ini yang menjadi penyebabnya, maka serviskan karburator pada ahlinya. Kalau berani mencoba, buka satu persatu dimulai dari baut di bagian atas. Selanjutnya bersihkan seluruh bagian karburator dan rakit kembali seperti semula.

Tinggikan posisi pelampung
Paling sering sebagai penyebab karburator 'banjir' karena tak maksimalnya kerja pelampung. Ini bisa karena komponen itu tak lagi berfungsi optimal atau dapat pula karena setelan pelampung terlalu rendah.
Bila karena kondisi pelampung yang memang sudah aus, jalan keluarnya hanya satu. Pelampung harus diganti. Tapi, bila karena persoalan posisi tinggi permukaan, coba ubah setelan pelampung untuk dinaikan ukuran dudukannya.

Servis secara berkala
Karburator perlu mendapat perawatan berkala. Ini karena karburator adalah kunci utama pembakaraan. Lakukan perawatan pada ahlinya atau bila Anda ingin mencoba lakukan sesuai buku petunjuk. Namun, jangan salah ketika harus melakukan penyetelan arus angin dan arus bensin. (bid/berbagai sumber)

Petunjuk Mengendarai Motor

Pusatkan Perhatian

Pusatkan perhatian Anda dan jangan terpengaruh kelakuan pengendara lain. Patuhilah petunjuk petugas, rambu-rambu dan isyarat lalu lintas serta marka jalan. Jangan mudah terprovokasi oleh aksi pengendara lain yang ugal-ugalan atau kebut-kebutan.

Jaga Jarak

Jangan menempel rapat dengan mobil maupun sepeda motor lain, karena bila kendaraan di depan selip atau berhenti mendadak, Anda tak punya kesempatan atau jarak untuk mengelak. Sekalipun sudah membuat jarak, tetap siaga untuk melakukan antisipasi.

Waspadalah Mobil di Depan

Apalagi menguntit bus, Amati penumpang di dalamnya atau gerak tangan kondektur. Sebab bus bisa berhenti atau membelok secara mendadak.

Atur Kecepatan

Sesuai kecepatan dengan reaksi, terlebih di sore hari (pulang kerja atau setelah menempuh perjalanan jauh. Sebab respon para pengendara tidak secepat di pagi hari (awal berkendara).

Di Lampu Merah (Trafic Light)

Sewaktu hijau menyala, jangan langsung tancap gas. Sikap demikian sangat ceroboh dan mengundang bahaya, dapat berakibat fatal.

Perhatikan Pergerakan Isyarat

Selain isyarat kepala dan pandangan, gerak tangan di kemudi juga bisa dideteksi, gerak mobil juga bisa dipantau melalui marka jalan. Apakah semakin menjauh atau menutup garis putih.

Saat Akan Mendahului

Sebelum mendahului, buat jarak sambil mengarahkan motor ke kanan, sehingga anda bisa melihat kendaraan dari depan. Perhitungan dengan cermat kecepatan motor apakah bisa mendahului dengan aman. Pastikan saat mendahului dan setelah mendahului Anda mendapat ruang gerak yang memadai. Saat akan mendahului bunyikan klakson, kalau kurang yakin nyalakan lampu jauh (beam). Jangan lupa lihat dari kaca spion apakah kita aman untuk berpindah jalur.

Ketika Mendahului

Jangan terlalu mepet, karena jika kendaraan yang didahului / disalip tiba-tiba pindah jalur, anda tidak bisa menghindar. Berbeda dengan mobil, motor hanya memiliki 2 roda sebagai tumpuan. Jangan memaksa diri untuk melakukan manuver di sela-sela mobil. sangat berbahaya jika tiba-tiba ada kendaraan atau orang nyelonong, Anda tidak punya ruang untuk mengelak. Saat stang tersenggol, maka bisa berakibat fatal.

Di Daerah Padat Lalu Lintas

Ditingkatkan kewaspadaan, terutama terhadap angkutan umum (truk dan kendaraan besar) yang berhenti seenaknya. Juga pejalan kaki, karena saat jalan macet, kadang mereka muncul mendadak atau menyebrang jalan tanpa menoleh kanan-kiri.

Melihat Fatamorgana

Bila dari jauh Anda melihat fatamorgana, sekalipun suasana lalu lintas sangat lengang, tetap kurangi kecepatan kendaraan. Mungkin saja itu adalah ceceran oli, air atau aspal jalan yang meleleh.

Melihat Genangan Air

Perlu kewaspadaan saat melewati genangan air. Karena badan jalan tidak terlihat. Kurangi kecepatan karena kita tidak tahu apakah jalan yang tergenang air bagus atau berlubang. Bila perlu hindari genangan.

Mendekati Terminal/Pool Bus

Di pintu masuk terminal / pool bus atau pintu keluarnya sering terdapat bekas tumpahan oli. Kondisi serupa juga terdapat di pangkalan truk, pompa bensin, bengkel atau pabrik.

Waspadalah Buka Pintu Mobil

Memasuki jalan yang banyak terdapat mobil di parkir, jaga jarak ketika melintasi disampingnya, minimal melebihi bukaan pintu mobil

Antisipasi Gerakan Mobil

Selalu waspada gerakan mobil di depan. Karena terkadang pengendara lupa menyalakan lampu sen / isyarat.

Melintasi Rel Kereta APi

Jangan tancap gas ketika melintasi rel kereta. Begitu pula di permukaan yang mengandung metal / Logam (seperti Jembatan) karena dalam kondisi panas bisa mengurangi daya cengkram ban dan licin bila dalam keadaan basah. Saat melintas rel, posisi ban jangn melintasinya sejajar, karena ban akan sulit melewati rel sehingga berakibat fatal yaitu ban terpeleset.

Bola Hitam Bola Putih

Ceritanya ada seorang anak cowok tunggal yang ditinggal mati nyokapnya pas ngelahirin dia. Sejak itu bokapnya jadi amat sangat workaholic sekali dan nggak married2 lagi. Ini anak baek hati dan lemah lembut walopun Cuma bareng pengasuh aja.

Pas TK, sementara anak2 laen udah punya sepeda dia masih jalan kaki. Pengasuhnya ngadu ke bokapnya,”Tuan, nggak kasian sama den Bagus? Masa sepeda nggak punya… apa tuan juga nggak malu?”

Iya..nih..bokapnya tuh tajir banget deh. Punya sekian perusahaan.. maka dipanggillah si anak, ditawarin mau sepeda yang kayak gimana merk apa.. dan si anak cuma bilang, “Nggak usah repot2 pi, aku dibeliin bola item bola putih aja..”

Lho kok gitu? Bingung dong bokapnya. “Kenapa bola item dan putih?” “Nggak usah diterangin deh pi. Kalo papi punya uang yaa..beliin itu aja.”

Yah, mengingat mereka nggak pernah ngobrol jadi papinya nerima2 aja. Nggak berminat lanjutin, maka dibeliin lah tu anak sepeda generasi terbaru saat itu, yang paling canggih, plus bola item dan bola putih. Trus ni anak masuk SD lah. Pas itu musim sepatu roda. Sekian lama pengasuh perhatiin, ni anak nggak minta2 dibeliin sepatu roda sama papinya. Sore2 cuma duduk aja. Sepedanya juga ditaruh di gudang. Lagi nggak musim. Pengasuhnya laporan pandangan mata dong ke tuannya hingga si anak dipanggil lagi.

“Nak, kamu mau dibeliin sepatu roda kayak temen2 kamu? Kok nggak bilang2 papi. Nggak masalah cuma beli sepatu roda aja…”.

Si anak bilang,”nggak pi, bola item dan bola putih saya udah rusak.. dibeliin lagi aja..nggak usah beli sepatu roda. Lagian lebih murah bola kan pi?”

Yee..si papi geram dong. Ni anak ngeremehin papinya sendiri, atau sok merendah ? So, tetep si papi beliin sepatu roda, plus bola item dan bola putih.

Selang beberapa taun, ni anak masuk SMP. Cerita sama terulang. Sekarang temen2nya musim rollerblade. Trend baru. Sementara sore hari, dia masih setia sama sepatu rodanya. Pas bokapnya pulang dari luar negri dan ngeliat anaknya doang yang pake sepatu roda, si papi malu banget. Gila, rumah gedong, perusahaan banyak, keluar negri terus…eeh anaknya ketinggalan jaman.

Besoknya, di kamar anaknya udah ada sepasang roller blade baru dengan note: “Biar kamu nggak malu”. Malemnya di ruang kerja papinya ada note balesan: “Pi, kok nggak Beliin bola item dan bola putih? Aku lebih suka itu.” Weleh, si papi pas liat note itu dongkol tambah bingung. Apaan sih istimewanya bola item dan bola putih? Emang bisa bikin die beken atau nge-tren? Besoknya dan besoknya lagi si papi berkali2 nemuin note itu… hingga dia nggak tahan dan membelikan anaknya bola item dan bola putih untuk kesekian kalinya. Bener, setelah dapet tu bola, si anak nggak ngerongrong bokapnya lagi.

Pas SMA, yang jaraknya rada jauh, si anak masih berbis ria,temen2nya udah ada yang bawa motor en mobil ke sekolahan. Suatu hari, tumben papinya di rumah, si anak pulang dianterin temennya yang mau ditebengin. Papi malu banget. Masa cuma untuk anak satu nggak bisa beliin mobil? Maka ditawarin anaknya. Si anak nolak dengan alasan mobil kurang praktis, lagian pengen bola item bola putih aja. Si bapak nggak terima penolakan. Karna anaknya udah gede, bisa berunding. Hingga tercetus keputusan si anak dibeliin motor plus bola item dan bola putih tentunya. Dan si bapak kesel juga donk. Udah berapa taun dia beberapa kali beliin dua macem bola itu tanpa tau kenapa. Tapi si anak nggak ada keinginan dan kemauan ngasih tau sih. Hingga tibalah masa kuliah.

Karna seneng dan bangga masuk PTN, si anak dikadoin mobil. Sampe beberapa bulan si anak masih naek motoor aja. Kuliah, pacaran, naek motor aja. Pacarnya juga bingung, kan dia punya mobil? Ditanya sama pacarnya, dijawab, abis papi nggak beliin bola item bola putih. Nggak ngerti anak sendiri sih!

So, pas makan malem bersama, si pacar bilang sama papi, kenapa si om nggak beliin bola item bola putih. Si papi sebenernya sensitif sama para bola itu.. huh.. sampe pacar anak gue nyuruh2.. ditanya dong kenapa. Si pacar bilang kalo mobilnya nggak akan dipake selama nggak dikasih bola itu juga. Papi bingung dong, di kamar anaknya udah segitu banyak bola item bola putih. Buat apa sih, pikir papi. Tapi demi gengsi, anak orang lho yang nanya, maka besoknya udah ada bola item bola putih buat anaknya.

Suatu hari anaknya gaul ke puncak bawa mobil, sama pacarnya. Yah, namanya anak muda, pas lagi di jalan, sipacar nyium dia en dia jadi grogi dan kecelakaan! Segera dibawa ke rumah sakit, si papi juga ditelpon sama rumah sakitnya. Tabrakannya parah. Mereka berdua nggak ada yang pake seatbelt, yang cewek mati seketika dan ni cowok udah sekarat.

Si papi dateng ke RS..”gimana dok, anak saya?” Dokter (dengan tampang empati penuh duka cita) :”Maaf pak, kami tidak dapat berbuat banyak.. sepertinya memang sudah waktunya… sebaiknya bapak manfaatkan waktu terakhir..”

Perlahan si bapak masuk, nyamperin anaknya. “Pap, maafin saya..nggak hati2 bawa mobilnya..” si anak juga nangis karna pacarnya nggak tertolong. Si papi nenangin dia…akrablah dua manusia itu beberapa saat. Hingga si papi beranggapan ini saat terakhir. Dia inget penasaran dia tentang kenapa si anak selama ini selalu minta bola item bola putih. “Nak, maafin papi selama ini yang selalu sibuk.. kamu jadi kesepian.. maafin papi, nak. Nggak sempet jadi orang tua yang baik.”

Anaknya jawab,”nggak apa-apa pi, saya ngerti kok..Cuma sempet kesel kalo papi punya uang lebih malah beliin yang macem2….saya cuma minta bola item dan bola putih aja kan?” Si papi rasa timing-nya tepat nih, “KENAPA SIH KAMU SELALU MINTA BOLA ITEM BOLA PUTIH… ADA APA DENGAN BOLA2 ITU sih…..?” (pembaca juga penasaran ya..?)

Si anak jawab dengan terpatah2 dan susah banget, abis udah sekarat dan masanya udah hampir sampe… “Sebab pi…saya..saya. .saya…”

*hep..hep..hep*

Kepalanya rebah dan nafasnya ilang. Si anak udah meninggal sebelum kasih tau papinya.

Nah, si papi aja yang udah hidup bareng anaknya bertahun tahun nggak tau… apalagi saya yang cuma bercerita? GIMANA? Kesel ngak sih? Tabokin aja yang pertama kali cerita, tapi maapin yang “forward” in karena saya juga korban nih, nggak enak jadi korban sendirian.