Dinar dan Harga Kambing

Sudah lama saya tidak mengurusi harga kambing, terakhir ngurusi ketika menjadi ketua DKM di Masjid komplek dan ikut memantau harga-harga kambing yang ditawarkan supplier. Saat itu (2002-2003) harga kambing masih di kisaran Rp 500 ribu-an.

Hari-hari ini pedagang kambing mulai ramai menjajakan kambingnya di pinggir-pinggir jalan, saya perhatikan kambing-kambing yang sedang harganya sudah diatas Rp 1 juta-an. Kok cepat amat ya naiknya?

Inilah realita daya beli uang kita. Harga kambing-kambing tersebut sesungguhnya tidak berubah selama 1400 tahun lebih. Harga kambing di zaman Rasulullah pada kisaran 1 Dinar, maka satu Dinar sekarang tetap dapat untuk membeli kambing dengan ukuran sedang.

Tidak demikian halnya dengan uang kertas baik itu Rupiah, US$ maupun uang kertas dari negeri manapun, belum ada yang terbukti survive dalam jangka panjang.

Apabila trend kenaikan harga kambing (sama dengan kenaikan harga Dinar) tetap seperti rata-rata trend 40 tahun terakhir yaitu naik 23.30 %/tahun, maka kambing Qurban yang sekarang harganya Rp 1.2 juta, 5 tahun lagi akan menjadi Rp 3.4 juta dan 40 tahun lagi akan menjadi Rp 5.22 Milyar. Wow..

Lagi-lagi inilah realita uang kita. Tetap tidak masuk akal membeli seekor kambing seharga Rp 5.22 Milyar?

Waktu saya berusia 5 tahun tahun harga kambing cuma Rp 1,600 perak. Saat itu (kalau toh saya sudah bisa berpikir) tentu nggak kebayang kalau 40 tahun kemudian harga kambing menjadi Rp 1.2 juta, tetapi ini sekarang terjadi.

Sebelum harga kambing menjadi Rp 5.22 milyar, sangat banyak yang bisa terjadi terhadap uang fiat kita. Oleh karenanya pemahaman dampak inflasi terhadap daya beli uang kita dalam rentang waktu yang panjang ini perlu kita kuasai agar kita tidak menjadi korban inflasi.

Bapak-bapak kita, kakak-kakak kita yang lebih dahulu memasuki usia pensiun banyak sekali yang mungkin sekarang menderita secara finansial, karena menjadi korban inflasi yang tidak pernah mereka sadari, apalagi mengantisipasinya.

Lantas apakah kita harus rame-rame memindahkan dana pensiun kita pada kambing ? Why not ?🙂 Tetapi kambing hanyalah representasi asset riil yang memiliki nilai terjaga. Selain ke kambing tentu bisa ke asset riil lainnya berupa Dinar Emas, perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan dan berjibun pilihan investasi benda riil lainnya. Produktif dan insyaallah tidak tergerus inflasi.

Wallahu A’lam.

Oleh Muhaimin Iqbal

Note : saat tulisan ini publish di blog saya, Dinar di kisaran Rp. 1.700.000

Antara Gula, Air dan Kopi

Dear sahabat, yang saat ini sedang membaca tulisan ini, “Apakah ada secangkir kopi hangat di meja Anda?” Apakah Anda membuatnya sendiri? Atau mungkin orang yang menyayangi Anda telah meluangkan waktunya membuatkan secangkir kopi hangat untuk Anda.

Tp yang pasti kopi yang ada di meja Anda setidaknya terdiri dari gula, kopi dan air panas bertemu dalam sebuah cangkir untuk dinikmati. Saya yakin kita sependapat.


Gula yang bagus, putih bersih walau sedikit tapi terasa manis. Kopi yang benar-benar sudah masak, hitam tapi wangi walau terasa pahit. Dan Air panas yang dituangkan untuk melarutkan keduanya. Menghadirkan aroma yang begitu nikmat. Bahkan belum diminum pun sudah menghadirkan sensasi kenikmatan tersendiri. Ah..

Akan sangat aneh rasanya bila salah satu di antaranya tidak seperti yang disebut di atas. Sebutlah gula yang berkualitas rendah dan tidak terlalu manis. Gula yang dalam jumlah banyak tapi terasa hambar. Seperti halnya apa yang kita rasa telah kita miliki. Begitu berlimpah tapi tak memberi membahagiakan. Akan begitu mengesankan gula kualitas bagus dalam jumlah sedikit tapi terasa begitu manis. Apa yang kita miliki mungkin tak banyak tapi begitu membahagiakan.

Kopi, warnanya hitam dan terasa pahit. Mungkin begitulah apa yang sering kita rasakan sebagai kesedihan atau kekecewaan. Tak peduli seberapa banyaknya kopi itu, sekalipun hanya sedikit tapi rasanya begitu pahit di lidah kita. Tak peduli seberapa banyak apa yang pernah kita alami tapi begitu menyakitkan, hidup terasa begitu pahit.

Lalu bagaimana si air panas? Sewaktu penulis masih kecil menanyakan pada ibu yang telah melahirkannya, “Kenapa sih (gula dan)kopi ini harus diberi air panas? Kenapa tidak air dingin saja. Kan tidak repot harus merebus air. Bahkan setelah dituang ke dalam cangkir kita masih harus menunggu sampai kopinya dingin baru bisa diminum.” Sambil mengaduk secangkir kopi, Ibu hanya tersenyum dan menjawab ringan, “Supaya kopinya matang nak.” Kopinya matang? Sebuah jawaban yang sulit dimengerti saat itu.

Air panas akan melebur pahitnya kopi, melebur manisnya gula dan menghadirkan rasa yang sangat nikmat. Begitulah peran si air panas. Ialah hati kita yang merasakan bahagia seperti manisnya gula. Dan bukan siapa2 selain hati kita pula yang merasakan kecewa serasa pahitnya kopi. Dan yang bisa melebur keduanya hanyalah hati yang lapang. Hati yang bisa menerima kekecewaan dan kebahagian.

Pernahkah kita memperhatikan seseorang yang kita kagumi. Apa yang kita kagumi dari beliau? Senyumnya kah? Sejenak melihatnya sudah bisa menyejukkan. Hanya dari senyumnya sudah bisa menggambarkan betapa indahnya hidup beliau. Kadang kita berpikir apakah beliau memang tidak pernah merasakan kekecewaan?

Sahabat, setiap kita pernah merasakan kesedihan, setidaknya pernah mengalami kekecewaan karena kenyataan tak sesuai dengan harapan. Maukah kita memiliki hidup yang indah seperti beliau? Mau susah seperti apa, mau kecewa seperti apa selalu saja masih bisa menghadirkan senyum. Senyum, itulah aroma nikmat dari secangkir kopi. Siapapun yang mencium aromanya, tidak ada yang bisa menghalangi untuk ikut merasakan kenikmatannya.

Sahabat, tidak selamanya kepahitan yang ada harus kita rasakan sebagai kekecewaan yang berlarut-larut. Karena masih ada gula yang selalu mau berteman dengan kopi. Tuangkanlah kebahagiaan ke dalam hati kita. Dan tersenyumlah. Hati yang lapang akan berkata, “Selalu ada kebahagiaan yang menemani kesedihan.”

Adakah hati yang lapang di diri Anda? Sahabatku, setelah membaca artikel ini, mari berbagi senyum sebagaimana saat saya menuliskan untuk sahabatku.

Om, Yang Itu Boleh

Tenda sederhana warung kaki lima di tikungan jalan aku memarkirkan motor. Hilir mudik orang berjalan lalu lalang entah darimana dan mau kemana. Saat aku masuk ke dalam warung tenda ini, ada bapak setengah baya sudah duduk di ujung sana. Sementara aku pilih duduk di ujung lainnya. Tak lama ibu setengah baya menyusul masuk ke warung tenda ini dan duduk tak jauh dariku.

Mendadak gagap untuk sekedar mau pesan apa yang sedari tadi ingin aku telan dengan segera. Belum sempat aku membuka mulut untuk sekedar memesan makanan, ibu tadi main tunjuk-tunjuk makanan yg mau dipesannya. Bang, bungkus lima, yang dua pake ini gak usah itu. Yang dua lagi itu aja. Lainnya campur. Oh ya tambah itu donk. Ini juga. Bungkus ya. Banyak bener syaratnya hanya untuk porsi makanan yang hanya beda di lidah dan tenggorokan, selebihnya sama. Ups..

Sudah lah biarlah ibu ini yang dilayani dulu. Setengah menggerutu ternyata pesanan ibu ini banyak gila. Belum lagi pesanan tambahan yang spontan dia perintahkan untuk segera dilayani. Praktis tak ada sela untukku memesan semangkok bubur kacang ijo yg sedari tadi menari2 di depan mataku. Hhmm.. apa iya kudu nunggu adzan Isya utk sekedar ngisi perut yg seharian kosong? Ah, ini urusan kecil bray, emang kudu sabar dan ngalah, apalagi pd ibu-ibu. Loe gak sabaran mending loe ikutan pake rok deh. Entah obrolan siapa nyangkut di otakku.

Kl urusan yg begini jadi ingat derita antri nasi uduk, antrian selalu diserobot ibu-ibu dan gak tegaan untuk sekedar ngingetin. Apalagi sampai protes menegur ibu-ibu. Semoga tuhanku mencatat ini sbg bentuk penghormatanku pada orang tua. Give me amiinn guys.. tq.

Belum juga giliranku dilayani tiba. Seorang anak kecil mengagetkanku dari balik tenda warung ini. Bu minta.. Pengemis kecil ini mengiba ke ibu setengah baya tadi. Tak henti mulutnya meminta, matanya sesekali ikut menghitung berapa bungkus pesanan ibu setengah baya itu. Sampai juga kebosanannya menunggu pemberian dari sang ibu. Drama sedih kali ini sad ending, alias tak menghasilkan sekeping receh pun. Bisa ditebak, kini si anak dekil ini beralih ke yang lain, dan itu adalah aku.

Drama sedih kembali diulang. Om..minta om.. Om..minta.. Begitu terus ucapnya yang tak henti terngiang di telingaku. Mungkin sudah menjadi komitmen, entahlah, dengan halus aku kibaskan tangan tanda aku tak berkenan. Sikap ini bukan terinspirasi pemberitaan media massa bahwa penghasilan pengemis bisa mengalahkan gaji seorang manager. Atau investigasi reporter tivi tentang seorang korlap pengemis yang hidup bergelimang harta. Jauh, jauh sebelum berita itu booming aku sudah tak tertarik ‘beramal’ dengan cara seperti ini. Banyak kok lembaga resmi yang bisa menyalurkan bantuan. Ya, itulah secuil alasan untuk membenarkan sikapku. Sementara para pemberi sedekah tetap saja tampak bodoh termakan wajah melas. And You know? This is very-very kacrut.

Bisa jadi kalau ada orang yang ghiroh/semangat beramalnya lagi tinggi spontan akan meneriakiku pelit. Hai guys, denger jawaban gwa ini ya. Sebodo teuing dibilang pelit. Bodo amat loe mau ngomong apa. Mending loe aja yg jabanin pengemis. Di warung tenda ini baru satu orang, sekalian loe hitung ada berapa banyak pengemis di sepanjang jalan ini. Dan tolong sekalian disantuni semua. Beramal jangan nanggung, pentokin. Kalau perlu sampe loe gak mampu nyantuni lagi. And plis gak usah sibuk memberi label orang dermawan atau orang pelit pada setiap orang yang berada pada situasi seperti ini. Pls noted ya. Satu lagi. Loe pikir loe yang mau bagi-bagi pahala? Entahlah, kalau difilmkan, mungkin tampak malaikat dan setan sedang seru-serunya berantem di kepalaku. Tapi, ngapain juga aku jadi emosi gini? Hehehe..

Hingga tiba kebosanan anak ini meminta-meminta uang padaku. Dan kini giliranku dibuatnya kembali kaget untuk yang kesekian kalinya. Sama sekali tidak aku duga. Om kalau yang itu boleh? Tanya lugu anak itu kepadaku. Aku pun memandang ke wajah anak ini. Perawakan dekil dan baju lusuh yang ia pakai. Anak ini menunjuk deretan makanan yang berjajar di atas meja dan bergegas mendekatinya. Tanpa memperdulikan aku lagi apakah mengiyakan atau tidak. Masih setengah bengong kali ini spontan aku bilang, “Ambil.”

Belum berujung kebingunganku, tangannya sudah sibuk memilih-milih makanan yang dia suka. Abang penjual setengah ragu mau melarang anak itu lancang memilih2 makanan yg dia jajakan rapi di atas meja. Tapi sesekali dia melihatku untuk memastikan aku menanggung semua makanan yg anak itu ambil. Sementara itu bubur kacang ijo sudah ada di hadapanku menanti untuk aku santap. Dan sekerat roti bersanding teh hangat yang sedari tadi aku pesan setia menunggu untuk kusantap.

Puas dia memilih makanan yang dia sukai. Om, makasih ya. Tanpa menunggu jawabku dia sudah ngeloyor keluar dari warung tenda ini. Pergi entah kemana dengan tangan memegang makanan yang tadi dia pilih. Hai guys, loe yg sibuk menghakimi gwa sedari tadi. Tlg yang barusan terjadi jangan sampai lepas dari catatan loe. Bisa jadi inilah bedanya, benar gwa gak sudi kepingan receh jatuh ke tangan pengemis. Tapi apakah loe sudi lembaran uang loe untuk bayarin makanan yang loe sendiri gak ikut makan? Pikir baik-baik itu. So be wise guys.

Udah bang, jadi berapa?

Sepanjang jalan ini, aku berpikir, kesempatan indah itu kadang datang tak terduga. Kadang menghampiri di antara keangkuhan hati. Dan kadang hinggap pada orang-orang tertentu, yaitu orang yang dipilih oleh sang pencipta. Maka bersyukurlah kalau engkau memiliki kesempatan itu. Begitulah tuhanmu mengajarkanmu tentang hidup. Dia tak butuh sembahmu, tetapi Dia melihatmu bagaimana kamu memperlakukan sesamamu.

 

Emas di Mata Para Ahli

written by Muhaimin Iqbal

 

Bagi yang mengira bahwa harga emas dunia dikisaran US$ 1,230/oz atau di Indonesia pada kisaran Rp 367,000/gr hari-hari ini sudah ketinggian sehingga berniat menjual emas/Dinarnya atau menunda investasinya, tulisan saya kali ini barangkali bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan Anda. Kali ini bukan pendapat saya yang dominan, tetapi saya ambilkan dari 10 ahli per-emas-an dunia yang sangat kompeten dibidangnya.
Saya sarikan prediksi harga emas oleh para ahli ini, masing-masing lengkap dengan alasannya sebagai berikut :

 

1. Peter Schiff (President & Chief Global Strategist dari Euro Pacific Capital)

Peter Schiff ini memprediksi harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz – US$ 10,000/oz dalam 5 sampai 10 tahun mendatang , dengan alasan bahwa masyarakat dunia akan semakin takut dengan penurunan nilai (debasement) mata uang kertasnya menyusul serangkaian krisis ekonomi, real estate, mortgage meltdown, credit crunch, subprime debacle dan entah apa lagi nama krisis-krisis berikutnya.
2. David Rosenberg (Mantan Merril Lynch Economist, Sekarang Chief Economist & Strategist di Gluskin Scheff)

David memberikan estimasi yang menurutnya sendiri masih konservatif di angka US$ 3,000/oz dalam waktu dekat. Alasannya adalah : bila didasarkan pada rasio harga emas dan GDP tiga decade kebelakang, harga emas seharusnya berada pada US$ 5,300/oz. Bila disetarakan dengan CPI (Consumers Price Index) , maka harga emas seharusnya sudah berada pada kisaran US$ 2,300/oz. Bila rasio yang digunakan adalah rasio harga emas dengan jumlah uang M1, maka harga emas harusnya sudah berada pada angka US$ 3,100/oz.
3. Alf Field ( Tekenal di dunia sebagai World’s Best Gold Analyst)

Alf memprediksi harga emas akan berada pada rentang US 5,000/Oz – US$ 10,000/Oz. Alasannya adalah bila mengikuti trend tahun 70-an ke 80-an dimana harga emas melonjak 24.3 x dalam 1 dekade, kenaikan emas decade ini akan mencapai US$ 6,221/Oz yang merupakan perkalian harga terendah decade ini US$ 256 x 24.3. Penyebab fundamental-nya adalah krisis sekarang yang dia sebutnya sebagai systemic meltdown, dan pemerintah dunia membanjiri ekonomi dengan uang kertas untuk mengatasi krisis-krisis tersebut yang justru berdampak pada hilangnya nilai uang kertas.
4. Forextraders.Com

Situs foreign exchange ini memprediksi harga emas akan berada pada kisaran US$ 3,000/oz – US$ 4,000/oz dalam lima tahun mendatang. Alasannya orang semakin kawatir dengan kestabilan kuangan publik di AS, kekurang seriusan pemerintah menangani problem social security, kredibilitas dollar yang terus terpuruk dan kelemahan fundamental ekonomi dunia.
5. Harry Schultz (dari Newsletter berbayar : International Harry Schultz Letter)

Harry memprediksi harga emas akan mencapai US$ 6,000/Oz tanpa memberi target waktu yang pasti. Alasannya adalah harga emas akan melonjak sangat tinggi bila terjadi hyperinflasi, sedangkan hyperinflasi adalah fenomena moneter yang bisa terjadi secara dadakan, kapan saja – berbeda dengan fenomena ekonomi pada umumnya yang terjadinya secara gradual.
6. Egon von Greyerz ( Managing Derector dari Matterhorn Asset Management – Swiss)

Menurut Egon emas akan mencapai kisaran US$ 5,000/oz – US$ 10,000/oz dalam beberapa tahun mendatang. Alasannya : pertama bila real inflation seperti yang disajikan oleh Shadowstats.com digunakan untuk mengukur harga emas yang wajar, maka harga emas akan berkisar 6 kali dari harga sekarang. Kedua, realitas bahwa supply emas yang tidak akan pernah cukup untuk memenuhi demand terhadap emas yang tumbuh lebih cepat.
7. Peter Cooper ( Penulis buku “Dubai Sabbatical : The Road to US$ 5,000 Gold)

Peter memperkirakan harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam waktu yang tidak terlalu lama. Alasannya adalah saat ini pemerintah –pemerintah di dunia memaksakan rezim suku bunga yang rendah untuk mengatasi krisis; pada saat suku bunga rendah – obligasi pemerintah menjadi menarik. Namun situasi ini tidak akan bertahan lama, obligasi akan segera jatuh dan orang perlu pelarian uangnya ketempat yang aman – tempat aman apalagi yang lebih aman dari obligasi pemerintah kalau bukan emas ?. Sedangkan supply emas selalu terbatas, maka bila ada lonjakan demand – yang pasti terjadi adalah lonjakan harga.
8. Rob McEwen (Chief Executive Officer – CEO dari US Gold Corp Inc.)

Rob berpendapat bahwa harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam rentang waktu antara 2012 – 2014. Alasannya : hutang pemerintah yang terus tumbuh dan akan mencapai skala yang dia sebut sebagai horrific scale. Dari masalah hutang yang pelik tersebut , menurut Rob akhir tahun ini saja harga emas sudah bisa mencapai US$ 2,000/oz.
9. Peter Krauth (Expert kenamaan dibidang Metals and Mining Stocks).

Peter memprediksi emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam beberapa tahun mendatang. Alasannya adalah : potensi inflasi yang semakin besar, lonjakan demand, Central Banks tidak lagi menjadi net sellers tetapi malah menjadi net buyers, dan krisis yang terus bermunculan seperti yang terjadi di PIIGS.
10. Arnold Bock ( Komentator pada situs emas paling terkenal di dunia Kitco.com)

Menurut Arnold harga emas akan naik secara parabolic sampai mencapai US$ 10,000 pada tahun 1912. Dia memiliki enam alasan untuk prediksinya ini yaitu : a) kegagalan pemerintah-pemerintah membayar hutang; b) bangkrutnya raksasa-raksasa financial dunia; c) Inflasi dan devaluasi mata uang-mata uang dunia; d) manipulasi harga emas sehingga masih ‘ rendah’ sekarang ; e) keterbatasan supply emas dibandingkan dengan peningkatan demand-nya; f) kebutuhan untuk melabuhkan dana-dana di tempat yang aman atau safe haven.
Lantas bagaimana menurut pendapat saya sendiri ?, sekali lagi saya tidak ahli dan tidak menguasai ilmu masa depan itu – hanya Allah yang Maha Tahu apa yang akan terjadi. Hanya saja seandainya mengikuti statistik 10 tahun terakhir di Indonesia, dimana harga emas awal 2000 adalah Rp 66,000 /gram dan sekarang di kisaran Rp 367,000 /gram atau naik menjadi 5.56 kalinya dalam 10 tahun; maka saya tidak akan kaget bila dalam sepuluh tahun mendatang harga emas di Indonesia bisa mencapai Rp 2,000,000/gram atau Dinar mencapai diatas Rp 8.5 jt per Dinar. Wa Allahu A’lam.

Perencana Keuangan : Investasi Pasif

Untuk melindungi harta Anda dari perampok yang bernama inflasi, apa yang harus dilakukan ? Inflasi harus dilawan karena jika tidak kita akan dimiskinkan tanpa pernah menyadarinya.

Bagaimana Anda memproteksi harta yang susah payah Anda dapatkan dengan bekerja 8 hingga 10 jam per hari dari ketidakpastian situasi ekonomi di masa mendatang? Krisis kecil 3-5 tahunan. Krisis besar 10 tahunan. Nilai tukar rupiah yang melemah. Inflasi yang melibas janji-janji keuntungan dari bank bernama bunga.

Jika bulan ini Anda mendapatkan bonus dari perusahaan karena prestasi Anda yang baik selama setahun lalu sebesar Rp 5 juta, di situasi Anda tak perlu bayar hutang (karena telah ada alokasi dana lain), dan murni akan Anda simpan dana itu, akan dikemanakan uang tersebut ? Atau bagi para istri, kemana akan disimpan kelebihan uang perjalanan dinas suami senilai Rp 1 juta yang diamanahkan kepada Anda selaku manajer investasi di keluarga ? Atau yang masih pelajar dan ingin belajar investasi, akan disimpan atau diinvestasikan kemana bonus Rp 500 ribu ‘angpau’ saat lebaran dari keluarga dan kerabat Anda ?

Kembali bahwa jenis tabungan atau investasi haruslah yang mampu mendahului kencangnya laju inflasi. Prinsip pengelolaan keuangan dengan cara investasi atau menabung sebetulnya adalah menunda kenikmatan untuk hasil yang lebih besar di masa mendatang, atau menunda konsumsi untuk tujuan investasi.

Investasi atau menabung untuk memperkuat kondisi ekonomi rumah tangga adalah menyimpan nilai atau manfaat uang untuk digunakan suatu saat di masa depan. Jadi intinya satu : nilai manfaat di masa datang haruslah lebih besar dibanding saat ini.

Nah, kembali ke persoalan awal, Anda kemanakan Rp 5 juta, Rp 1 juta dan Rp 500 ribu tadi?

Kita akan abaikan jenis investasi aktif yakni berbinis langsung, baik sebagai pelaku maupun sebagai pemodal karena pembahasan kita adalah tentang cara termurah dan termudah bagi siapapun untuk berinvestasi sekaligus melindungi hartanya. Sebetulnya pilihan investasi aktif dengan berbisnis ini adalah yang terbaik untuk dipilih dan bagi yang belum suatu saat Anda perlu coba, karena banyak benefit lain selalu financial return dengan cara investasi riil seperti ini (misalnya : melatih ikhtiar dan tawakkal, efek sosial dengan membuka lapangan kerja, efek ekonomis yaitu bergeraknya perekonomian). Belum lagi janji luasnya rizki bagi pebisnis sebagaimana sabda Rasulullah, “Pintu rizki ada 20, 19 untuk pedagang dan 1 pintu untuk orang yang menggunakan ketrampilan tangannya (pekerja atau karyawan).”

(Rasul kita adalah pedagang dan ulama bahkan mengatakan bahwa berdagang dan berbisnis adalah salah satu cabang jihad yang besar pahalanya. Semangat ini harus terus digelorakan, dan akan kita bahas khusus di lain kesempatan). Kemudian perencana keuangan mengajarkan untuk memilih investasi pasif yang hasilnya bisa melebihi tingkat inflasi, dengan 3 alternatif yang bisa dipilih : saham, properti, atau emas.

Saham

Saham mungkin menarik. Keuntungan yang didapat hingga 5 – 7 kali lipat dalam 5 tahun. Tapi investasi saham memerlukan ketrampilan khusus untuk menilai fundamental dan pertumbuhan jangka panjang perusahaan yang sahamnya kita beli. Dengan bekal pengetahuan seadanya, kita bisa merugi hingga modal jadi nol dalam waktu singkat. Berinvestasi saham juga melebihi merawat bayi, perlu perhatian khusus, konsentrasi penuh, hingga tak bisa tidur. Yang jelas kasihan Anda yang hanya punya dana lebih Rp 5 juta, Rp 1 juta dan Rp 500 ribu, karena investasi saham tak bisa dimulai dengan angka sekecil itu.

Property

Bagaimana dengan property ? Investasi berupa rumah tinggal, apartemen, ruko, kavling tanah juga menggiurkan. Keuntungan bisa mencapai 15% per tahun. Apalagi di lokasi strategis untuk perkantoran maupun ramai penduduk. Tapi apa yang bisa kita lakukan dengan Rp 5 juta, Rp 1 juta dan Rp 500 ribu? Kita tak bisa membeli tanah 1×1 meter square karena tak ada jualan property dengan ‘pecahan’ sekecil itu.

Emas

Pilihan terbaik adalah emas. Tak perlu Rp 5 juta atau Rp 1 juta, bahkan dengan Rp 500 ribu kita sudah bisa berinvestasi sekaligus melindungi harta kita. Emas adalah investasi sekaligus untuk hedging (lindung nilai) harta terbaik. Nilai emas jika ditakar dengan mata uang kertas naik rata-rata 25% per tahun, bahkan dihitung sejak krisis terjadi awal 2009 lalu saat ini nilai emas telah naik 40%. Dalam 10 tahun, kenaikannya 414%. Baca juga “Emas di mata para ahli“. Selain itu pecahan emas hingga 0,5 gram bisa kita dapatkan dengan mudah, artinya dengan dana lebih sebesar Rp 200 ribu pun kita bisa menyimpan dalam bentuk yang memberi hasil maksimal.

Anak-anak kita pun mulai bisa diajarkan sejak awal untuk berinvestasi dengan benar. Emas adalah kandungan intrinsik Dinar, mata uang asli Islam. Edukasi tentang Dinar bisa dimulai juga dari sini. Murah, mudah, serta liquid jika kita membutuhkan dana segar dengan cepat.

Wallahua’lam

________________________________

Catatan :

Kemana tabungan dan deposito ? Keduanya tak kita singgung sama sekali karena kita sadari cara menyimpan seperti itu merugikan diri sendiri. Semenjak 1998, bank di negeri ini menggeser sumber penghasilannya berbasis fee (fee based income). Selain dari penghasilan bunga kredit, bank memaksimalkan pendapatan dari pengelolaan rekening, serta jasa transaksi (misalnya transfer) yang bisa dikutip langsung dari nasabah. Pada saldo tertentu, tabungan kita di bank tidak menghasilkan apa-apa alias hasilnya nol persen.

Deposito mungkin lebih tinggi tingkat bagi hasilnya, tapi kenyataan bahwa tingkat hasil per tahunnya 6 – 8% (sementara inflasi rata-rata 10%), ditambah dana kita terikat (tak bisa fleksibel untuk transaksi) maka deposito lebih layak diabaikan sepenuhnya.

Bukti Stabilitas Nilai Dinar dan Dirham

Beberapa bukti sejarah yang sangat bisa diandalkan karena diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits dapat kita pakai untuk menguatkan teori bahwa harga emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang relatif tetap sedangkan mata uang lain yang tidak memiliki nilai intrinsik terus mengalami penurunan.

(Al-Kahf 19) Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?).” Mereka menjawab, “Kita berada(di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata(yang lain lagi), “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada(di sini).” Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun.

Di surat Al Kahfie ayat 19 tersebut diungkapkan bahwa mereka meminta salah satu rekannya untuk membeli makanan di kota dengan uang peraknya. Tidak dijelaskan jumlahnya, tetapi yang jelas uang perak. Kalau kita asumsikan para pemuda tersebut membawa 2-3 keping uang perak saja, maka jika dikonversi ke rupiah akan berkisar Rp 80,000 – Rp 120,000. Dengan uang perak yang sama seperti sekarang (1 Dirham sekarang sekitar Rp 40,000) kita dapat membeli makanan untuk beberapa orang. Jadi setelah lebih kurang 18 abad, daya beli uang perak relatif sama.

Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat dari Hadits berikut :

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi saw. memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau, lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi saw. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli tanahpun, ia pasti beruntung.” (H.R.Bukhari)

Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah saw. adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang sangat adil, tentu beliau tidak akan menyuruh ‘Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan. Fakta kedua adalah ketika ‘Urwah menjual salah satu kambing yang dibelinya, ia pun menjual dengan harga satu Dinar. Memang sebelumnya ‘Urwah berhasil membeli dua kambing dengan harga satu Dinar, ini karena kepandaian beliau berdagang sehingga ia dalam hadits tersebut didoakan secara khusus oleh Rasulullah saw. Diriwayat lain ada yang mengungkapkan harga kambing sampai 2 Dinar, hal ini mungkin-mungkin saja karena di pasar kambing manapun selalu ada kambing yang kecil, sedang dan besar. Nah kalau kita anggap harga kambing yang sedang adalah satu Dinar, yang kecil setengah Dinar dan yang besar dua Dinar pada zaman Rasulullah S.A.W maka sekarangpun dengan 1/2 sampai 2 Dinar (1 dinar sekarang sekitar Rp 1,7jt) kita bisa membeli kambing dimanapun di seluruh dunia – artinya setelah lebih dari 14 abad daya beli Dinar tetap. Bagaimana rupiah kita?🙂

Rencana Allah atas Penciptaan Emas dan Perak

Ulama besar Imam Ghazali (1058 M-1111 M) dalam bukunya yang legendaris Ihya Ulumuddin mengungkapkan bahwa Allah menciptakan Emas dan Perak agar keduanya menjadi `Hakim` yang adil dalam memberikan nilai atau harga, dengan Emas dan Perak pula manusia bisa memperoleh barang-barang yang dibutuhkannya.

Yang dimaksud oleh Imam Ghazali dengan Emas dan Perak dalam bukunya tersebut adalah Dinar yaitu uang yang dibuat dari emas 22 karat dengan berat 4.25 gram, dan Dirham yaitu uang yang dibuat dari perak murni seberat 2.975 gram. Standar berat mata uang Dinar dan Dirham ini ditentukan oleh Khalifah Umar Bin Khattab sekitar 400 tahun sebelum Imam Ghazali menulis buku tersebut.

Dalam bentuk dan beratnya yang belum standar, Dinar dan Dirham memang sudah ada sejak sebelum Islam lahir, karena Dinar (Dinarium) sudah dipakai di Romawi dan Dirham sudah dipakai di Persia. Kita ketahui bahwa apa-apa yang ada sebelum Islam namun setelah turunnya Islam tidak dilarang atau bahkan juga digunakan, maka hal itu menjadi bagian dari ajaran Islam itu sendiri, Dinar dan Dirham masuk kategori ini. Di lain pihak apa-apa yang ada sebelum Islam, kemudian dilarang oleh Islam melalui Al Qur`an, atau Al Hadits, maka hal tersebut tidak boleh diiikuti oleh Umat Islam. Contoh yang terakhir ini adalah berjudi, berzina, minuman keras, riba dsb.

Di Al Qur`an ketika Allah menceritakan tentang pemuda Ashabul Kahfi, juga menyebut mata uang yang dipakai oleh pemuda tersebut adalah mata uang perak (QS 18:19) – yang dikenal kemudian sebagai Dirham – yang menurut para ilmuwan terjadi sekitar pertengahan abad ke 3 masehi atau kurang lebih 4 abad sebelum Islam.

Pertanyaannya adalah apakah Dinar dan Dirham yang dipakai sejak pra-Islam, kemudian terus dipakai di masa Rasulullah saw. distandarisasi di zaman Umar Bin Khattab dan kemudian dipakai oleh seluruh umat Islam sampai runtuhnya kekhalifahan Osmaniah di Turki tahun 1924, dapat pula kita pakai dalam kehidupan sehari-hari umat Islam di zaman modern sekarang ini?

Jawabannya adalah pasti dapat! Kaidahnya adalah sebagai agama akhir zaman – tidak ada satu ajaran Islam-pun – yang out of date. Tinggal tantangannya ada pada diri kita sendiri yang hidup di zaman ini untuk dapat mengimplementasikan solusi yang mengikuti ajaran Islam ini dengan menyeluruh atau kaffah – dan kita kembalikan kepada inti ajaran Al Qur`an dan al Hadits untuk segala permasalahan yang kita hadapi.

Baca juga ”Bukti Stabilitas Nilai Dinar dan Dirham

4 Perkara

Sahabatku,

Ada empat perkara yang berharga dalam diri manusia dan dia bisa
hilang dengan empat perkara juga. Adapun yang berharga itu ialah Akal, Agama,  Malu dan Amal soleh. Maka, siapakah yang bisa menghilangkannya?
1.  Akal bisa hilang karena marah.
2.  Agama bisa hilang karena dengki.
3.  Malu bisa hilang karena tamak.
4.  Amal shaleh bisa hilang dan terhapus karena suka menceritakan keburukan orang lain.

Manusia akan menghadapi 4 penarikan:
1.  Malaikat pencabut nyawa akan menarik rohnya.
2.  Para ahli waris akan menarik hartanya.
3.  Ulat(cacing) akan menarik tubuhnya.
4.  Orang yang dimusuhi & dianiayai akan menarik barang
kepunyaannya di hari kiamat iaitu AMALNYA.

Dari Ali r.a.  : Sesungguhnya amalan yang paling sulit ada 4 macam:
1.  Memberi maaf saat masih marah.
2.  (masih)Suka memberi di kala susah.
3.  Menjauhi yang haram di waktu sunyi.
4.  Mengatakan yang hak kepada orang yang ditakuti atau kepada
orang yang diharapkan sesuatu darinya.

Dari Hatim Al-Asom : 4 perkara yang hanya diketahui nilai oleh empat orang yaitu:
1.  Nilai masa muda hanya diketahui oleh orang (yang sudah)tua
2.  Nilai kedamaian hanya diketahui oleh orang yang pernah ditimpa bencana.
3.  Nilai kesehatan hanya diketahui oleh orang-orang yang sakit.
4.  Nilai kehidupan hanya diketahui oleh orang-orang yang telah
mati.

Semoga yang  “empat” ini bisa menjadi rambu-rambu perjalanan hidup kita.

salam,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.